Menjenguk Tiongkok Kecil di Pantai Utara Jawa

Sinar matahari yang menyengat terik, debu, dan jalanan yang padat oleh berbagai jenis kendaraan adalah gambaran keseharian jalur Pantai Utara (Pantura) Jawa. Pun demikian siang hari itu ketika saya dan teman perjalanan, melintas. Lasem yang menjadi kota tujuan juga tak terkecuali.

Kota kecamatan yang berkabupaten Rembang ini memang ‘terbelah’ oleh Jalan Raya Pos yang dibangun semasa Daendels (1808-1811). Meski begitu, kota kecamatan seluas 4.504 hektar ini kini tengah naik daun.

Banyak yang memperbincangkan keunikan kota ini. Oleh publik, kota yang hanya berjarak 12 km dari Kota Rembang ini disebut dengan banyak julukan, mulai dari Kota Pusaka, Kota Santri, Kota Tua, Kota Batik hingga Tiongkok Kecil.

 

Langsung Kesengsem

Nama Lasem telah lama saya kenal karena disebut-sebut dalam pelajaran sekolah berpuluh-puluh tahun lalu. Berkali-kali saya melewati jalur pantura, tapi baru awal April lalu saya menjejakkan kaki di kota ini. Ini adalah buah dari rasa penasaran usai membaca tautan di sosial media. Isinya, berita tentang pentas terakhir sebuah gamelan yang telah berusia seabad. Sebuah pertunjukan yang juga akan berbarengan dengan perayaan Ceng Beng di sana.

Seorang ibu tersenyum dari balik pintu regol (pintu kupu-kupu). (Foto: Toto Santiko Budi)
Seorang ibu tersenyum dari balik pintu regol (pintu kupu-kupu). (Foto: Toto Santiko Budi)

Awalnya, terasa biasa saja ketika tiba di sana. Bahkan, rupa toko-toko di sepanjang jalur pantura di Lasem pun tak bisa dinikmati. Apa lagi kalau bukan karena kendaraan-kendaraan besar, seperti bus dan truk, yang berhenti sesaat laksana parkir di depannya.

Mobil yang saya tumpangi kemudian berbelok dan memasuki gang-gang sempit bagian dari Desa Karangturi, Babagan, dan Soditan. Mata saya yang tadinya masih berat untuk terbuka sontak terbelalak. Desa-desa tersebut luar biasa fotogenik. Terbukti bahwa puji-pujian tentang Lasem dari sebuah komunitas yang menyebut diri mereka Kesengsem Lasem, benar adanya.

Kesengsem Lasem sendiri adalah sebuah kelompok yang dibentuk pada awalnya oleh sejumlah individu yang memiliki kesamaan rasa cinta pada Lasem dan sekaligus ingin menjaga kelestarian warisan benda maupun nonbenda di kota kecamatan itu.

Tidaklah salah bila semakin hari semakin banyak orang yang kesengsem dengan Lasem.

 

Serba Tua, Tapi Eksotik

Dinding dari bangunan-bangunan yang terawat berdampingan dengan yang kusam tapi eksotik. Pintu-pintu regol (pintu kupu-kupu) aneka rupa dan warna milik masing-masing rumah yang hampir semua dipagar tembok tinggi bercat putih terlihat di seantero desa. Dari balik pagar, acap terlihat atap rumah-rumah ala Tiongkok yang melengkung bak ekor walet.

Setiap pintu regol yang terbuka akan memperlihatkan rupa Lasem yang tersembunyi. Beruntunglah, kami mengeksplorasi kawasan Lasem ditemani Baskoro atau lebih akrab disapa Mas Pop (kependekan dari Populer), pemuda setempat penggiat pusaka Rembang dan Lasem. Kami jadi punya akses untuk bertamu dan melihat apa yang ada di balik pintu-pintu regol tersebut.

Kami bisa melihat keindahan arsitektur rumah masa lalu yang terkadang masih lengkap dengan segala perabotnya yang juga jadul. Ada juga sebuah rumah yang menjadi tempat membuat batik. Sebuah pengalaman yang menarik.

Lasem memang unik dan menarik. Meski masih banyak terlihat rumah dan bangunan dengan atapnya yang melengkung, tak sedikit pula model bangunan dengan pengaruh kolonial Eropa yang kuat. Atap berbentuk limas dengan pilar-pilar khas menghias teras, ditambah lagi lantai tegel dengan motif yang indah.

Sejumlah rumah tua bergaya Tiongkok-Eropa nan indah itu kini telah berubah peruntukannya. Bangunan Kantor Polisi Sektor Lasem yang megah itu konon dulunya adalah rumah berpilar yang berdiri pada abad ke-19 dimiliki oleh seorang saudagar bernama Lim Hong Hoen. Konon, di masa lalu, bangunan ini pernah difungsikan sebagai gudang candu.

Lasem, dalam sejarahnya pernah menjadi tempat pendaratan dan penyelundupan candu terbesar di Pulau Jawa. Sejumlah rumah konon memiliki lorong rahasia terkait lalu-lintas candu ini.

Rumah berjuluk Lawang Ombo yang sesuai namanya memang memiliki pintu utama dengan ukuran yang sangat besar. Pemilik rumah adalah Soebagio Soekijan (Tjoo Boen Hong) menunjukkan sebuah lobang yang terletak di bagian kiri rumah. Lubang itu adalah lorong rahasia yang dulunya tembus hingga tepi sungai. Dahulu, lorong ini digunakan oleh para penyelundup membawa candu yang diturunkan dari kapal langsung ke rumah candu di tempat yang kini dikenal sebagai Lawang Ombo.

Berdoa di altar ruang tamu. (Foto: Toto Santiko Budi)
Berdoa di altar ruang tamu Lawang Ombo. (Foto: Toto Santiko Budi)

Bangunan lain yang segera menyita pandangan adalah sebuah rumah di Karangturi. Pagar temboknya dicat merah menyala. Warna khas Tiongkok yang bermakna kejayaan. Sebuah logo diterakan di dinding pagarnya bertuliskan “Tiongkok Kecil Heritage”. Rumah bergaya Eropa yang apik ini dimiliki oleh Rudy Hartono. Tak sedikit dana ia keluarkan untuk merestorasi rumah yang sepertinya kini menjadi area wajib kunjung di Lasem ini.

Dinding luar rumah Tiongkok Kecil Heritage bercat merah dan paling menarik perhatian di Lasem. (Foto: Toto Santiko Budi)
Dinding luar rumah Tiongkok Kecil Heritage bercat merah dan paling menarik perhatian di Lasem. (Foto: Toto Santiko Budi)

 

Kelenteng Tua

Lasem memiliki tiga kelenteng. Kelenteng Cu An Kiong yang berada di Desa Dasun ini konon adalah yang tertua. Rumah ibadah yang bertetangga dengan rumah Lawang Ombo ini disebut-sebut dalam literatur berdiri pada abad ke-14. Pada bagian dalam bangunan terdapat lukisan dinding berwarna monokrom yang terdiri dari 100 fragmen. Mural tersebut memuat kisah Fangshen Yanyi atau kisah tentang penciptaan dewa-dewi.

Lampion-lampion Klenteng Cu An Kiong, di Desa Dasun. (Foto: Toto Santiko Budi)
Lampion-lampion Klenteng Cu An Kiong, di Desa Dasun. (Foto: Toto Santiko Budi)

Kelenteng lainnya adalah Bao An Bio yang terletak di daerah Karangturi dan satu lagi Gie Yong Bio yang berada di Babagan. Ketiga kelenteng tersebut biasanya akan ramai didatangi umat. Utamanya, setiap tanggal 1 dan 15 penanggalan Imlek dan saat hari besar lainnya.

Lasem dikenal akan kerukunan dalam keberagamannya. Asimilasi dan akulturasi budaya telah menjadi bagian keseharian masyarakat Lasem dan pecinan. Selain perempuan keturunan Tionghoa yang berkain dan berkebaya, kesenian Jawa seperti tarian dan gamelan masih mewarnai perayaan-perayaan keagamaan di kelenteng-kelenteng.

Para lelaki bercengkrama di warung kopi Jenghai di Karangturi untuk menikmati sarapan, menyeduh kopi Lasem yang super halus ampasnya sehingga bisa dileletkan ke batang rokok saat air kopi dalam cangkir mereka telah tandas.

 

Cetar Batik Lasem

Sudah lama nama Batik Lasem populer di kalangan penggemar batik. Ia termasuk jenis batik pesisir. Meski masih belum dipastikan kebenarannya, konon teknik membatik di Lasem berasal dari misi dagang dan misi kebudayaan armada Cheng Ho di Nusantara pada abad ke-15. Hingga kini, Lasem tetap setia dengan teknik batik tulisnya.

Seperti halnya kain batik dari daerah pesisir, batik Lasem juga memiliki variasi warna dan corak yang beragam. Masyarakat pesisir yang egaliter mudah menyerap berbagai perkembangan sosial dan budaya yang terjadi di sekitarnya.

Batik lasem sendiri banyak mendapat pengaruh budaya Tiongkok, seperti corak naga, burung hong (phoenix), dan flora-fauna lain. Sebagai kota pesisir, motif bernuansa bahari juga masuk ke dalam batik mereka, di antaranya motif butiran pasir dan motif rumput laut atau yang dalam bahasa setempat disebut latoh. Ada juga perajin batik yang menambahkan aksara-aksara Tionghoa dalam desain batiknya seperti yang dilakukan Batik Sekar Kencana milik Sigit Wijaksono.

Saat di Lasem, saya dan rombongan sempat berkunjung ke salah seorang perajin batik tulis halus bernama Priscilla Renny. Renny demikian ia akrab disapa adalah putri dari Naomi Susilowati Setiono (alm.) pembuat batik tulis klasik halus yang dikenal dengan merek Maranatha. Batik yang mereka buat terinspirasi dari motif batik klasik Lasem yang telah dibuat oleh para leluhur sejak 1700-an. Sungguh menenangkan melihat ada anak muda yang mau melestarikan batik klasik.

Priscilla Renny, penerus Batik Maranatha menggantikan sang ibu,  Susilowati Setiono yang telah berpulang. (Foto: Toto Santiko Budi)
Priscilla Renny, penerus Batik Maranatha menggantikan sang ibu, Susilowati Setiono yang telah berpulang. (Foto: Toto Santiko Budi)

Harga batik dipengaruhi berbagai hal. Batik kaya warna dengan detail yang lebih rumit, dan dikerjakan dengan lebih halus akan semakin tinggi harganya.