
Pameran foto, video & batik
KESENGSEM LASEM
di Tirana House | Jln. Suryodiningratan 55 Yogyakarta
11 April-11 Mei 2016
PENYELENGGARA
National Geographic Indonesia
Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Karangturi Lasem
#KesengsemLasem
Tirana House/Art Management
KONTAK PERSON
[email protected]
www.kesengsemlasem.com
Pop (penggiat pusaka Rembang & Lasem) – 08995826616
MATERI PAMERAN
- Foto-foto dari NGI hasil tim riset tim: Mahandhis Y. Thamrin, Agni Malagina, Feri Latief mulai bulan Juli 2015 s.d. Desember 2015. Dimuat di Majalah NGI edisi Februari 2016.
- Batik Lasem
- Video dan foto oleh Feri Latief.
SEJARAH & GEOGRAFIS
Lasem sebuah kota Kecamatan bagian dari Kabupaten Rembang di pesisir Pantai Utara berjarak 12 km dari kota Rembang, Jawa Tengah. Kota ini memiliki luas wilayah 4540Hektar dan dilalui Jalan Raya Pos yang dibangun pada masa pemerintahan Daendels (1808 – 1811) Belakangan, kota ini mendapat aneka julukan : Kota Batik, kota Santri, Kota Tua, Kota Pusaka, hingga Tiongkok Kecil.
Sejarah Lasem tidak bisa dilepaskan dari para peranakan Tionghoa. Itulah yang membuat Lasem unik; sebuah kota kecil berkisar 110 km dari Semarang, di sisi pesisir timur Jawa, tetapi memiliki penduduk Tionghoa yang cukup banyak. Beberapa catatan sejarah berkaitan dengan asal-usul peranakan Tionghoa di Lasem adalah sebagai berikut.
- Salah satu pelabuhan di masa Majapahit.
- Pada abad 14, armada Laksamana Cheng Ho singgah di Lasem.
- Pada abad 14, Bi Nang Un anggota awak kapal Laksamana Cheng Ho menetap di Lasem.
- Na Li Ni, istri Bi Nang Un dari Campa, memberikan pengaruh Kebudayaan Campa/ Indocina pada Batik Lasem
- Tahun 1740, pemberontakan Tionghoa terhadap VOC di Batavia menyebabkan pengungsian ke arah timur Jawa, salah satunya Lasem yang membuat Lasem bertambah penduduk Tionghoanya
Dengan sejarah panjang adirna peranakan Tionghoa di Lasem, kita sekarang ini dapat dengan mudah menjumpai warga etnis Tionghoa bercengkerama dengan santai dengan etnis Jawa dan Muslim , Rumah-rumah kuno berarsitektur Tionghoa-Indis-Jawa, klenteng-klenteng tua, dan batik dengan motif peranakan Tionghoa yang khas dengan gambar naga, burung hong, bunga seruni, dan warna merah darah mewarnai kearmonisan interaksi antar etnis. Tak heran jika Lasem juga memiliki sebutan sebagai Kota Tiongkok Kecil.
Lasem juga terkenal dengan sebutan Kota Santri. Dua sebutan terkenal tersebut mencerminkan bahwa penduduk di Lasem yang multietnis dan multiagama dapat hidup berdampingan dengan harmonis sejak lama hingga sekarang.
BATIK
Lasem juga terkenal sebagai Kota Batik. Perkembangan batik di Lasem, konon dimulai sejak masa Na Li Ni, istri Bi Nang Un, seorang anggota ekspedisi Cheng He (1405-1433) yang memberikan pengaruh kebudayaan Campa/Indo China pada batik Lasem. Langgam batik Lasem pun mendapat pengaruh corak simbolik tradisi Tiongkok; seperti patron Naga perlambang kekuataan dan keagungan, patron Phoenix/burung Hong perlambang kecantikan dan aneka patron bunga-bunga perlambang keindahan dan kesejahteraan.
Saat ini Pemkab Rembang sudah terlibat di Program P3KP (Program Penataan dan Pelestarian Kota Pusaka). Di sisi lain masyarakat mempunyai mimpi untuk mewujudkan Lasem sebagai World Heritage Town. Dalam rangka mewujudkan mimpi itu, warga Desa Karangturi membentuk Pokdarwis / Kelompok Sadar Wisata yang berperan sebagai penggerak dalam mendukung tercipatanya iklim kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya kepariwisataan berbasis Pelestarian Pusaka/Heritage di Desa Karangturi yang merupakan kawasan Pusaka prioritas.
FOTO
Karya-karya foto yang ditampilkan dalam pameran ini pernah dimuat di
National Geographic Indonesia dan National Geographic Traveler Indonesia. Dalam edisi Februari 2016, kedua majalah tersebut menampilkan Pecinan Lasem dalam kisah featurenya. “Corong Candu di Tepian Jawa” terbit di majalah National Geographic Indonesia, dan “Terbit Rindu pada Bekas Kota Candu” di National Geographic Traveler. Keduanya dikisahkan oleh Agni Malagina dan fotografer Feri Latief
Karya foto yang lahir dari riset tim NGI: Mahandhis Y. Thamrin, Agni Malagina, Feri Latief di bulan Juli 2015 berhasil merepresentasikan Pusaka Lasem pada situsi-situasi terbaiknya. Dengan melihat dan menikmati Pameran foto ini kita dibawa ke atmosfer #KesengsemLasem
