Menyingkap Kisah Pahatan dan Mural Kuno di Lasem

oleh Agni Malagina

Panel-panel 'komik' dewa-dewa di Klenteng Cu An Kiong. (Foto: Syefri Luwis)
Panel-panel ‘komik’ dewa-dewa di Klenteng Cu An Kiong. (Foto: Syefri Luwis)

Dari pesan antikorupsi sampai kisah mistis yang diwariskan oleh pendiri klenteng tertua di Lasem.

Mural yang menghiasi beranda Klenteng Cu An Kiong, Lasem. Mural monokrom hitam putih itu diambil dari 100 panel ‘komik’ Fengshen Yanyi, yang dikenal juga dengan nama Fengshenbang atau “Kisah Mitologi Dewa-Dewa Taois” karya Xu Zhonglin. (Mahandis Y. Thamrin/National Geographic Indonesia)

“Sebagai pengingat bagi kita untuk tidak korupsi ya,” ujar Gandor Sugiharto selaku sesepuh Klenteng Cu An Kiong. “Banyak pelajaran moral di sini ya.”

Gandor, 68 tahun, bersama saya mengamati selajur pahatan pada sudut atap di halaman dalam klenteng. Pahatan indah itu berkisah tentang sebuah peristiwa di Lasem. Yang menggambarkan dua orang laki-laki yang memanggul gelondongan kayu besar. Konon, berabad silam ada dua orang yang melakukan tindak penggelapan uang, demikian kata Gandor. Kemudian mereka dihukum untuk memanggul kayu hingga akhir hayatnya. Celaka!

Tiada habis kata yang mampu mengungkapkan betapa cantiknya klenteng utama di Lasem, Cu An Kiong atau Ci An Gong. Klenteng ini terletak di tepian Sungai Lasem, Jalan Dasun No. 19, Lasem, Jawa Tengah.

Bangunan ini terkenal dengan keindahan detail ornamen atap, ukiran kayu, pahatan dan mural pada dinding bagian dalam klenteng. Walau sudah berabad lamanya, keindahannya tak luluh tergerus waktu. Tak ada yang tahu dengan pasti, kapan klenteng ini berdiri. Saya pun belum menjumpai catatan resmi mengenai berdirinya klenteng ini.

Halaman Klenteng Cu An Kiong lebih sering tampak lengang pada hari-hari biasa. Saya menyaksikan sebuah tiang besi mirip tiang dek kapal yang masih berdiri menjulang di halaman klenteng. Tiang dengan bendera kecil berbentuk segitiga itu menjadi sebuah penanda bahwa dewa utama dalam klenteng tersebut adalah dewa yang berhubungan dengan laut, yaitu Dewi Ma Zu atau sering disebut Mak Co. Dalam bahasa Hokkian diucapkan sebagai Thian Siang Sing Bo—Sang Dewi Samudra atau Dewi Laut.

Sang Dewi itu dipuja oleh para pelaut dan perantau yang mengarungi lautan untuk mendapatkan cuaca bersahabat dan keselamatan. Bagi nelayan atau pelaut yang memujanya, sebelum musim melaut, mereka akan mengadakan sembahyang pemujaan bagi Ma Zu pada tanggal 23 bulan 3 penanggalan Imlek.

Mereka menyalakan lilin dan dupa cendana, mempersembahkan makanan berbahan dasar daging ayam dan babi, dan memanjatkan doa memohon keselamatan. Bagi masyarakat Cina Indonesia terutama warga Lasem, tanggal ini merupakan tanggal ulang tahun Ma Zu. Ia pun diletakkan pada altar utama klenteng. Dewi Ma Zu begitu sangat dipuja, sehingga pengunjung tabu untuk mengabadikan figur Ma Zu menggunakan kamera.”Jangan difoto,” cegah Gendor, “nanti khawatir terjadi apa-apa dengan kita.”

Klenteng Cu An Kiong memiliki bentuk bangunan khas daerah Cina bagian selatan. Bangunan itu berbentuk persegi empat atau siheyuan yang memiliki atap atap ekor walet—atap Ying Shan atau Yinwei Xing. Jenis atap ini baru populer pada masa Dinasti Qing (1644-1911). Sesuai peraturan pada masanya, jenis atap ini hanya digunakan sebagai atap bangunan kuil serta bangunan kantor yang dipenuhi oleh simbol-simbol keberuntungan. Namun di Lasem, beberapa bangunan rumah pun memiliki jenis atap ekor walet dengan detil ornamen simbol yang dipercaya sebagai tolak bala. Menurut saya, kenyataan ini memperkuat dugaan bahwa klenteng ini tampaknya dibangun pada abad ke-15.

Bangunan utama klenteng ini dipenuhi oleh aneka ragam hias simbolik penuh makna yang menggambarkan prinsip Yin dan Yang. Ornamen simbolik Yin berupa burung hong atau phoenix terpahat di bagian kiri teras klenteng sedangkan ornamen simbolik Yang berupa naga terpahat di bagian kanan klenteng. Dinding depan yang terbuat dari kayu menyatu dengan pintu-pintu yang dipenuhi ukiran bunga-bunga dalam vas. Pada bagian atap terdapat ukiran detil diorama yang terinspiransi dari Roman Tiga Negara, San Guo Yan Yi.

Dinding dalam bagian Klenteng Cu An Kiong dipenuhi mural. Uniknya, mural di Klenteng ini berbeda dengan beberapa klenteng besar semacam Klenteng Besar Cirebon, Klenteng Dhangun Bogor dan beberapa klenteng lainnya yang memajang mural Roman Tiga Negara.

Tak banyak yang mengetahui kisah lukisan di dinding Cu An Kiong. Mural monokrom hitam putih itu diambil dari 100 panel ‘komik’ Fengshen Yanyi, yang dikenal juga dengan nama Fengshenbang atau Kisah Mitologi Dewa-Dewa Taois karya Xu Zhonglin.

Fengshen Yanyi ditulis pada masa Dinasti Ming (1368-1644), terbit pada 1550. Karya itu berkisah mengenai mitologi dewa dewi Cina yang sarat mitos, sejarah, dan legenda—yang diperkuat dengan fantasi sang pengarang.

Komik ini mengambil latar masa akhir Dinasti Shang (1600-1046 SM) dan masa kebangkitan Dinasti Zhou (1046-256 SM). Bercerita tentang penggulingan Raja Zou (Dinasti Shang) oleh Raja Wu dari Dinasti Zhou yang dibantu oleh pahlawan tempur, dewa-dewi, roh halus, dan mahluk jadi-jadian. Begitu detilnya gambaran torehan tinta pada dinding Cu An Kong sehingga gambar itu tampak hidup.

Klenteng yang pernah dipugar besar-besaran pada tahun 1869 rupaya juga menyimpan aneka kuplet dan papan bertuliskan aneka peribahasa simbol keselamatan dan keindahan. Kuplet itu dibuat pada masa Kaisar Guang Xu dari Dinasti Qing yang memimpin antara 1875-1908. Tak dapat dipungkiri, klenteng ini bukan saja memiliki keindahan bangunan, namun dipenuhi oleh aneka makna simbolik dan nilai moral di dalamnya tak terkecuali kisah magis yang melingkupinya.

 

(Tulisan ini juga terbit di http://nationalgeographic.co.id/)

About the author

Dosen di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, mendalami sinologi, pencinta budaya Cina di Nusantara, tinggal di Jakarta. Di luar kesibukannya di dunia akademis, ia juga kerap menulis untuk beberapa media, salah satunya National Geographic Indonesia.

Related Posts

Leave a Reply