Keputusan para pedagang Tionghoa untuk menetap di Lasem rupanya tidak hanya mempengaruhi kekayaan arsitektur kota ini. Tapi, juga kesenian lain, yaitu batik. Berdasarkan Kitab Badrasanti (1478 M), batik di Lasem mulai dikenal sekitar tahun 1420 M, ketika anak buah kapal Zeng He (Cheng Ho) bernama Bi Nong Hua dan sang istri, Na Li Ni dari Kerajaan Champa, memutuskan tinggal di Lasem, tepatnya di Babagan. Na Li Ni kemudian mengajarkan teknik batik kepada masyarakat Lasem.
Karena itu, batik Lasem mendapat pengaruh yang kuat dari budaya Tionghoa, salah satunya melalui warna batik yang merah berani, atau disebut abang getih pithik (warna darah ayam).
Batik Lasem atau Laseman kemudian berkembang, dan memiliki banyak warna khas, seperti Bang-bangan (merah), Tiga Negeri (merah-biru-cokelat), Bang-Biron (merah-biru), Es Teh atau Sogan (kekuningan), Biron (biru), dan Empat Negeri atau Tiga Negeri Ungon (merah-biru-soga-ungu). Sementara, untuk motif, batik Lasem punya banyak ragam, mulai dari yang terpengaruh budaya Tionghoa, seperti motif burung hong (phoenix), naga, koin uang, dan bunga seruni; sampai bermotif lokal, seperti Sekar Jagad, Pasiran Kawung, Kawung Babagan, Sekar Srengsengan, dan Sido Mukti.

“Ayo ke Babagan. Cari batik!” kata Agni, salah satu kawan perjalanan saya.
Wah, alhasil, saya membeli sampai empat helai batik dengan beragam warna: Bang-bangan satu, Biron satu, Empat Negeri dua. Kisaran harga batik Lasem antara Rp150 ribu-jutaan. Ah, saya jatuh cinta!
***
Saya menyeruput kopi kental dalam cangkir kecil di Warung Jinghe, Jalan Karangturi. Setiap pagi, selama di Lasem, inilah hal pertama yang saya, dan ternyata juga masyarakat Lasem lakukan setiap pagi. Datang ke warung kopi, sarapan ketan dan goreng-gorengan, lalu pesan kopi hitam.
Nongkrong di warung adalah rutinitas setiap pagi sebagai waktu untuk ngobrol dan tetap bersilaturahmi dengan tetangga. Sembari ngobrol tentang apa saja, mereka biasa meleletkan (menempelkan) ampas kopi yang sudah dicampur susu putih ke rokok mereka.
“Dikasih susu supaya lengket ini di rokok,” kata Pak Shodiq, salah satu warga yang pagi itu sedang asyik membuat rokok lelet.
Begitu saya tanya rasanya, dia bilang, “Rokoknya jadi agak lebih pedas, tapi ada aroma kopinya. Coba, Mbak?”
Saya terpaksa menolak, karena saya memang tidak merokok. Saya hanya ketagihan pada kopi hitam Lasem yang kental itu.
Biasanya, sekitar jam 8-an, mereka beranjak dari warung lalu berangkat kerja. Saya dan kawan-kawan biasanya mager di warung kopi sampai jam 10, baru kemudian kembali berkeliling Lasem. Sekitar sore hari, warung kopi kembali ramai.

Hidup sederhana di Beijing Kecil ini seperti memamah candu. Ketagihan. Meskipun Lasem seolah memutuskan untuk menghentikan waktu sejak berabad-abad yang lalu, tapi kota ini seperti orang tua yang bijak—yang meski tidak ingin berubah, tapi selalu mampu menginspirasi lingkungan di sekitarnya.
“Wah, saya mesti mengutip kata-kata Henry Miller ini,” kata Mas Pop tiba-tiba sewaktu saya tanya kenapa cinta pada Lasem.

“Lasem is never a place, but a new way of seeing things!” kata Mas Pop tergelak karena telah bernyali memodifikasi kutipan terkenal Henry Miller, penulis besar Amerika Serikat.
Tapi, kemudian ia terdiam, pertanda ia serius. Ya, Lasem memang bukan sekadar tempat biasa. Seperti saya bilang, ia magis.
(Tulisan ini terbit di Majalah Maxim Indonesia edisi Januari 2016)
Author
-
Ia adalah penggemar berat sastra, terutama sastra Indonesia. Setelah mundur dari profesinya sebagai jurnalis, sekarang ia menikmati pekerjaannya sebagai pekerja paruh waktu. Kebanyakan sebagai travel writer, blogger di renjanatuju.com, scriptwriter film pendek, copywriter iklan, penulis fiksi, dan kontributor di pelbagai majalah.
