Malam Pusaka Dasun

Malam Pusaka Dasun, Sabtu 1 Oktober dan pengukuhan Dasun Heritage Society.
Malam Pusaka Dasun, Sabtu 1 Oktober dan pengukuhan Dasun Heritage Society.

 

Malam Pusaka Dasun berhasil dilaksanakan, pada Sabtu malam, 1 Oktober 2016. Ratusan orang memadati Gedung Serba Guna Dasun yang masih dalam proses pembangunan itu. Tua, muda, sampai bayi ikut menyaksikan dan mengikuti proses Malam Pusaka Dasun.

Malam Pusaka Dasun berhasil terselenggara berkat kerja sama pemerintah Desa Dasun dan beberapa komunitas, antara lain Komunitas Rumah Baca Pamotan, Paguyuban Pelestari Pusaka Bhre Lasem, Lasem Creative Heritage Society, Amuba TV, Ansor Lasem, Karangtaruna Ira Adhimukti-Ngemplak, Dasun Heritage Society, dan lain-lain.

Malam Pusaka Desa Dasun didahului dengan pemutaran film Selaput dari Amuba TV sekaligus meet & greet dengan para pemain film. Setelah pemutaran film selesai, acara dibuka dengan lagu Indonesia Raya. Berbagai pementasan seni, seperti pembacaan puisi tentang kelestarian alam, pergelaran pencak silat, dan pementasan pantomim yang berjudul Dasun Lestari dari Lasem Creative Heritage Society juga ikut meramaikan acara Malam Pusaka Dasun.

Malam itu bukan hanya menampilkan pertunjukan seni dan diskusi sejarah. Komunitas lokal yang baru beberapa minggu terbentuk, yaitu Dasun Heritage Society, dikukuhkan dalam Malam Pusaka Dasun. Pengukuhan langsung dipimpin oleh Kepala Desa Dasun sekaligus pembina Dasun Heritage Society, Sujarwo. Setelah itu, ada prosesi potong tumpeng sebagai simbol komunitas Dasun Heritage Society telah dikukuhkan.

Malam itu, ada tujuh tumpeng yang kemudian disantap oleh seluruh orang yang hadir dalam Malam Pusaka Dasun. Menurut penuturan Sujarwo, tujuh (pithu dalam bahasa jawa) tumpeng tersebut memiliki makna pitulungan atau pertolongan buat Dasun yang kebetulan bertepatan dengan malam Tahun Baru Hijriah.

Diskusi Malam Pusaka Dasun menampilkan dua pembicara. Pembicara yang pertama adalah Sujarwo yang berbicara tentang peninggalan-peninggalan bersejarah di Desa Dasun. Bertindak sebagai pembiacara selanjutnya yaitu Mathoya, Ketua Paguyuban Pelestari Pusaka Bhre Lasem yang berbicara tentang Dasun dalam bingkai sejarah.

Setelah pemaparan dari kedua pembicara, dilanjutkan dengan tanya jawab terkait sejarah Dasun dan peninggalan-peninggalannya. Diskusi tersebut merangkum bahwa Dasun sejak zaman Majapahit ternyata telah menjadi salah satu pusat galangan kapal.

Peran Dasun sebagai wilayah yang memproduksi kapal-kapal berlanjut di era Kesultanan Demak dan juga Kolonial Belanda. Hal itu bisa dilihat dari bukti peninggalan-peninggalan seperti dock kapal, umpak rumah sercurity lalu lintas kapal masuk Sungai Dasun serta beberapa kapal yang masih terpendam di sepanjang Sungai Dasun-Lasem.

 

Leave a Reply