Klinik Belajar #2: Kehumasan dan Pariwisata Lasem

Suasana Klinik Belajar #2 pada saat diskusi berlangsung.
Suasana Klinik Belajar #2 saat diskusi berlangsung.

 

Pada Sabtu, 17 September 2016, Kesengsem Lasem bekerja sama dengan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Karangturi menyelenggarakan Klinik Belajar #2, sanggar kerja, dan diskusi tentang kehumasan yang meliputi materi Branding, Marketing dan Customer Service.

Diadakan di Rumah Merah Tiongkok Kecil Heritage, Klinik Belajar #2 ini mendatangkan Alicia Irzanova, praktisi kehumasan pada sebuah perusahaan BUMN yang bergerak di bidang minyak dan gas. Materi kehumasan yang diberikan hari itu berkaitan dengan pengembangan pariwisata di Lasem. Acara tersebut diselanggarakan di Rumah Merah Tiongkok Kecil Heritage dan diikuti peserta dari berbagai kalangan.

Klinik Belajar kali itu diikuti sebanyak 25 orang. Dimulai dari paparan Alicia tentang cara membangun citra brand, bagaimana menjual produk, hingga dilanjutkan dengan melibatkan peserta untuk membuat satu kegiatan kehumasan dengan merancang paket wisata Lasem. Para peserta terlihat antusias bekerja dalam kelompok-kelompok kecil. Presentasi tiap kelompok disertai canda tawa yang membuat diskusi tentang pariwisata di Lasem menjadi lebih hidup.

Acara tersebut ditinjau oleh Gus Zaim pengasuh Pondok Pesantren Kauman Karangturi Lasem, yang turut mengirimkan santrinya untuk turut bergabung dalam acara diskusi tersebut.

Dalam bincang-bincang santai dengan pemateri, Alicia menyebutkan beberapa catatan dan perhatiannya mengenai pengembangan pariwisata di Lasem. “Lasem memang kaya dengan tinggalan masa lalu, sayang sekali belum diolah matang. Beberapa situs rumah kuno, seperti contohnya Lawang Ombo, masih sangat mentah materinya,” ujarnya ketika melawat ke Rumah Candu Lawang Ombo di Soditan.

Namun, ia kemudian memberikan catatan dengan nada optimis, “Lasem bisa berkembang baik. Perlu dana dan dukungan banyak pihak. Apa yang dilakukan komunitas di sosial media dan di Lasem cukup baik. Tapi yang terpenting dari mempromosikan wisata adalah mewujudkan janji yang diberikan kepada turis. Seringkali turis datang karena melihat foto-foto tapi kecewa karena kenyataan tidak seindah aslinya.”

Lebih lanjut ia memberikan saran bahwa kesan yang akan dibawa turis dari berwisata tidak hanya dari apa yang dilihat. Kesan yang paling melekat adalah pengalaman yang dirasakan.

Menurutnya, tempat-tempat wisata yang sudah mendunia selalu memberikan pengalaman di samping tempat wisata itu sendiri. Ia juga menambahkan bahwa pengalaman yang ingin “dijual” inilah yang harus digali bersama-sama oleh pengembang tempat wisata dan menciptakan kemasan yang dapat mewakili pengalaman yang ingin dijual tersebut.

“Misalnya ingin menjual pengalaman historis, maka tempat wisata tersebut harus dibentuk untuk memberikan kesan kembali ke masa lalu, seolah-olah dapat melihat dan merasakan kembali serta memahami apa yang terjadi pada masa tersebut.”

Klinik Belajar adalah sebuah program yang diupayakan akan digelar secara regular oleh #KesengsemLasem. Setelah menggelar workshop tentang media sosial di Klinik Belajar #1 dan branding di Klinik Belajar #2, akan digelar di masa datang workshop dengan pembahasan lainnya. Mari belajar sama-sama. Mari kesengsem Lasem.

 

 

Catatan:
Materi diskusi dapat diunduh di tautan berikut https://drive.google.com/open?id=0BywlIuvpSRIlVENISU84aEdVN2M.

Caranya adalah:

  1. Salin/ copy tautan di atas
  2. Potong/ paste di browser
  3. Materi siap diunduh
About the author

Dosen di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, mendalami sinologi, pencinta budaya Cina di Nusantara, tinggal di Jakarta. Di luar kesibukannya di dunia akademis, ia juga kerap menulis untuk beberapa media, salah satunya National Geographic Indonesia.

Leave a Reply