Klinik Belajar #1: Utak-atik Media Sosial sebagai Alat Promosi

Bulan September ini, Kesengsem Lasem memulai sebuah kegiatan berbagi pada teman-teman di Lasem. Klinik Belajar adalah sanggar kerja dan diskusi yang digagas oleh Kesengsem Lasem dengan tujuan untuk berbagi pengetahuan. Beragam topik yang dirasa bermanfaat bagi teman-teman di Lasem diangkat sembari mengundang narasumber yang merupakan praktisi langsung dari tiap topik yang diangkat.

Klinik Belajar adalah wujud terima kasih Kesengsem Lasem, sekaligus kontribusi awal untuk menjawab visi dan misi Kesengsem Lasem yang berharap Kota Tua Lasem menjadi kota wisata berwawasan konservasi dan pelestarian lingkungan hidup.

Kelas pertama berlangsung pada Sabtu, 10 September 2016 di kafe Rumah Merah Tiongkok Kecil Heritage, dan mengangkat topik media sosial. Narasumber yang mengisi kelas ini adalah Ellen Kusuma, salah satu admin media sosial Kesengsem Lasem. Ia adalah lulusan Pascasarjana Cultural Studies dari Departemen Ilmu Susastra, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia, yang juga merupakan pengamat perkembangan media sosial, pengguna, dan penggunaannya di Indonesia.

Di kelas ini, Ellen membahas media sosial, khususnya Instagram, dilihat sebagai sebuah alat promosi berbagai hal, termasuk untuk mempromosikan Lasem, seperti yang dilakukan Kesengsem Lasem. Ellen membahas esensi media sosial sebagai alat promosi, keuntungan penggunaan Instagram, dan memberikan tips-tips yang membantu pencitraan atau branding dari akun-akun Instagram yang dibuat untuk tujuan promosi, baik produk atau jasa.

Peserta Klinik Belajar yang hadir adalah masyarakat umum yang datang dari berbagai latar belakang dengan tujuan yang berbeda pula. Antusiasme peserta atas penggunaan media sosial terlihat dari pertanyaan yang diajukan. Salah satunya, ketika seorang peserta bertanya tentang mempromosikan dua produk yang sama sekali berbeda dalam satu Instagram. Ellen menjelaskan bahwa dalam upaya pencitraan, baiknya satu Instagram hanya mempromosikan satu produk secara khusus. Misalnya, Instagram yang mempromosikan makanan, baiknya tidak digunakan untuk berjualan pakaian juga, karena audiens atau penyimak akun Instagram tersebut akan mengalami kebingungan dan bahkan pemilik akun berpotensi kehilangan audiens-audiens baru.

Diskusi santai yang berlangsung hampir dua jam itu juga ditemani oleh Agni Malagina, salah satu pendiri dan admin Kesengsem Lasem yang pula merupakan pengajar dan Sinolog di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Ia menyampaikan cerita terbentuknya Kesengsem Lasem dan pengalamannya mengelola media sosial Kesengsem Lasem. Kelas pertama Klinik Belajar ini berakhir dengan peserta mengambil foto bersama.

Klinik Belajar Kesengsem Lasem

Akhir kata, nantikan Klinik Belajar Kesengsem Lasem #2!

Author

  • Ia adalah salah satu orang yang lebih memilih teh ketimbang kopi. Berbasis di Jakarta. Perempuan yang pembawaannya santai, senang solo traveling baik dalam atau luar negeri.