Gamelan: Titik Pertemuan Budaya Jawa, Islam, dan Tiongkok

oleh Abdullah Hamid
Pengamat budaya, Penggiat Masjid Jami Lasem dan Pesantren Kauman Lasem

Gamelan merupakan salah satu elemen budaya penting di Lasem. Gamelan dalam ilustrasi ini adalah seperangkat gamelan Jawa kuno akhir abad 19 yang dimiliki oleh Bapak Soebagio Soekidjan, dikenal dengan Kiai Nggumer atau dipublikasikan dengan nama Kiai Nggower.
Gamelan merupakan salah satu elemen budaya penting di Lasem. Gamelan dalam ilustrasi ini adalah seperangkat gamelan Jawa kuno akhir abad 19 yang dimiliki oleh Bapak Soebagio Soekidjan, dikenal dengan Kiai Nggumer atau dipublikasikan dengan nama Kiai Nggower. (Foto: Feri Latief)

 

Bagi kacamata awam seperti saya, jawaban tiga pertanyaan sederhana di bawah ini cukup menggambarkan mengapa gamelan menjadi titik pertemuan budaya Jawa, Islam, dan Tiongkok, yaitu pertanyaan sebagai berikut, “Apakah makna gamelan?”

Dalam berdakwah, Sunan Bonang atau Raden Makdum Ibrahim sering mempergunakan Kesenian Jawa Gamelan untuk menarik simpati rakyat, menambahkan perangkat gamelan yang disebut Bonang. Bonang adalah sejenis kuningan yang ditonjolkan di bagian tengahnya. Bila benjolan itu dipukul dengan kayu lunak, maka timbullah suaranya yang merdu di telinga penduduk setempat.

Lebih-lebih bila Raden Makdum Ibrahim sendiri yang membunyikan, seperti bende becak peninggalannya di Desa Bonang Lasem. Ini mungkin yang pertama dalam sejarah gamelan. Melalui karyanya itu, Sunan Bonang menggunakan metode intuitif atau jalan cinta (isyq). Pemahaman mengenal diri yang berkenaan dengan ikhtiar pengendalian diri bertalian dengan masalah kecerdasan emosi; masalah kemauan murni atau tulus dan lain-lain.

Ajaran Sunan Bonang berintikan pada filsafat cinta (‘isyq). Mirip dengan kecenderungan Jalaluddin Rumi. Menurut Bonang, cinta sama dengan pengetahuan intuitif (makrifat) dan kepatuhan kepada Allah SWT atau haq al yaqqin. Ajaran tersebut disampaikannya secara populer melalui gamelan media kesenian Jawa yang disukai masyarakat.

Sunan Bonang juga menambahkan instrumen baru pada gamelan. Yaitu bonang (diambil dari gelarnya sebagai wali yang membuka pesantren pertama di Desa Bonang). Bonang adalah alat musik dari Champa, yang dibawa dari Champa sebagai hadiah perkawinan Prabu Brawijaya dengan Putri Campa.

Instrumen lain yang ditambahkan pada gamelan ialah rebab, alat musik Arab yang memberi suasana syahdu dan merdu apabila dibunyikan. Rebab, yang tidak ada pada gamelan Bali, sangat dominan dalam gamelan Jawa. Bahkan, ia didudukkan sebagai raja instrumen. Sebagai musisi dan komponis terkemuka, konon Sunan Bonang menciptakan beberapa komposisi (gending), di antaranya Gending Dharma.

Gending ini dicipta berdasarkan wawasan estetik sufi, yang memandang alunan bunyi musik tertentu dapat dijadikan sarana kenaikan menuju alam kerohanian. Gending Dharma, konon, apabila didengar orang dapat menghanyutkan jiwa dan membawa suasana mistis ke alam meditasi (tafakkur).

Sunan Bonang juga menggubah gamelan Jawa kental dengan estetika dengan memberi nuansa baru. Dialah yang menjadi pencipta gamelan Jawa seperti sekarang, dengan menambahkan instrumen bonang. Gubahannya ketika itu memiliki nuansa dzikir yang mendorong kecintaan pada kehidupan transcendental (alam malakut). Sunan Bonang jelas bertanggung jawab bagi arah estetika gamelan. Musik yang ditabuh berdasarkan wawasan estetik sufi. Tidak mengherankan gamelan Jawa menjadi sangat kontemplatif dan meditatif.

Lalu siapakah sesungguhnya Sunan Bonang?

Pada 1413 M, Bong Tak Keng seorang bangsawan Cina muslim ditempatkan di Champa oleh Kaisar Tiongkok Cheng Tsu dari Dinasti Ming atas peran utusannya, Laksamana Cheng Ho. Kemudian, Tak Keng menikahi putri Raja Champa Ngaut Klaung Vijaya.

Beberapa tahun setelah kunjungan itu, giliran putranya, Syaikh Ibrahim As Samarqandi ke Champa dan dinikahi oleh putrinya bernama Chandravati, bersaudarakan Dwarawati yang dinikahi oleh Kertabhumi, Raja Majapahit. Syaikh Ibrahim yang kemudian wafat dan makamnya di Tuban menurunkan anak bernama Sayyid Ali Rahmad. Ia bernama Cina Bong Swie Hoo. Beliau adalah Sunan Ampel.

Sunan Ampel memiliki putra bernama Sunan Bonang, yang kemudian menetap di Lasem mendirikan pesantren.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimanakah sebenarnya asal mula Pecinan Lasem? Kedatangan resmi di Nusantara diawali pada 1406-1430 dipimpin Cheng Ho yang beragama Islam berasal dari Yunan. Tercatat dalam kronik Sam Po Kong, Cheng Ho kemudian mendirikan beberapa masjid di Ancol (Jakarta), Sampo Toalang (Semarang), Sembung (Cirebon), Lao Sam (Lasem), Tuban, Tse Tsun (Gresik), Cangki (Mojokerto), Jepara, dan lain-lain.

Peter Carey (1986) menulis, sejak masa Majapahit, pedagang-pedagang dari Tiongkok telah tinggal di daerah-daerah pelabuhan dan telah berlangsung lama menjalin perkawinan antar golongan etnis. Mereka yang menetap di Jawa terdapat di beberapa daerah terutama di Pesisir Utara Pulau Jawa.

Menurut Lee Song Liang (1980), banyak dari mereka mengambil perempuan Indonesia sebagai istri. Akibat perkawinan campuran ini, muncul keturunan Cina yang memiliki nenek moyang ibu Indonesia. Lazimnya, mereka disebut peranakan. Jadi, warga Pecinan Lasem sesungguhnya merupakan peranakan Cina-Jawa.

 

Titik Pertemuan Budaya

Berdasarkan ilustrasi atau gambaran perjalanan di atas menunjukkan amat dekatnya relasi atau hubungan budaya Jawa, Islam, dan Tiongkok. Interaksi di antara masyarakat pun bukanlah asing yang tidak saling mengenal satu sama lain. Maka tak heran, mereka dipersatukan oleh gamelan yang kedengaran lembut dan menyentuh, membawa pesan kedamaian, enak dinikmati siapa pun dan di mana pun, etnis apa pun. Gamelan menembus tanpa batas, telah memasuki rumah-rumah Cina, tidak ada lagi sekat-sekat. Semua telah lebur dan membaur menjadi Jawa atau Indonesia sejati yang ramah (berbudaya). Hal ini telah berlangsung lama, dan menjadi sumber inspirasi serta tradisi selama puluhan tahun.