Ngelelet: Ketika Eksistensi Rokok Tidak Menyebalkan

Aktivitas Ngelelet Rokok di Lasem

Saya setahun belakangan sering sekali ke Lasem. Bukan apa, tapi saya kena virus kesengsem lasem. Sudah nular ke kamu belum?

Salah satu yang banyak ditemukan di Lasem, yang jadi pemandangan di tiap warung kopi, setiap hari adalah para perokok dan rokok. Jadi, kali ini, saya ingin bicara tentang rokok. Sekadar latar belakang singkat, saya tidak pernah suka berada di sekitar rokok. Tapi, saat di Lasem, saya bisa menemukan satu momen ketika saya bisa berdamai dengan keberadaan rokok. Yaitu, ketika melihat orang-orang sibuk ngelelet.

Ngelelet adalah kebiasaan yang sering dilakukan oleh kaum adam di warung-warung kopi di Lasem. Entah saat pagi menyingsing ketika kesibukan belum menggeliat, atau ketika siang tiba dan matahari bersinar luar biasa terik.

Setelah penghuni warung kopi selesai menyeruput kopi item khas Lasem, yang juga mahsyur dengan sebutan kopi lelet, rasanya ada yang kurang bila tidak melanjutkan aktivitas dengan membakar gulungan tembakau yang dilelet. Istirahat siang sambil ngelelet di warung kopi.

Tua atau muda, single atau double, mas-mas dan bapak-bapak di Lasem ini terlihat fasih dengan kegiatan ngelelet atau melukis di atas rokok dengan menggunakan ampas kopi lelet.

Rokok dengan Kopi Lelet Lasem
Motif leletan atau lukisan dari ampas kopi di sebatang rokok, beragam macamnya. Ada yang bermotif batik, garis-garis, atau hanya titik-titik. (Foto: Ellen Kusuma)

 

Ngelelet 101

Hal pertama yang harus dilakukan agar ritual ngelelet ini afdol adalah meminum kopi leletmu sendiri sampai habis dan bertemu dengan endapannya di dasar cangkir. Pindahkan sebagian ampas ke piring cangkir, lalu ambil sepotong tisu dan tempelkan pada ampas kopi untuk mengurangi kelembaban si ampas.

Kemudian, campurkan susu kental manis secukupnya pada ampas kopi. Biasanya, pemilik warung sudah siap sedia dengan susu kental manis ini. Mereka mengerti bahwa pelanggannya butuh melakukan ritual ini supaya harinya lengkap. Kok, susu kental manis? Karena ia berperan sebagai perekat, supaya ampas kopinya bisa menempel di kertas rokok. Setelah selesai meracik pasta ampas kopi ini, sisanya hanya unjuk keterampilan tangan untuk ngelelet.

Mereka ini, God bless their skills, ngelelet dengan modal tusuk gigi, sendok, atau benang, tetapi bisa menghasilkan motif yang indah di atas gulungan rokok.

Ada yang dengan santai ngelelet seluruh kertas putih pembungkus rokok sehingga menjadi batangan rokok berwarna coklat. Ada pula yang menghabiskan waktu mereka dengan menggambar bunga-bunga seperti untaian motif batik di atas rokok. Jemari dari kedua tangan mereka dengan ulet mencocol pasta ampas kopi lalu bergerak-gerak luwes melukis di atas kanvas berbentuk silinder kecil itu. Rokok hasil ngelelet ini kemudian diletakan di atas papan khusus untuk dikeringkan.

Bagi orang yang tidak punya bakat menggambar sama sekali, seperti saya, menyaksikan orang ngelelet itu ibarat menyaksikan sebuah karya seni yang dibuat secara spontan. Dan, ini bukan perkara mudah, bung! Saya pernah iseng mencoba, dan saya menemukan bahwa ngelelet dan menghasilkan sesuatu yang indah darinya tidak termasuk di dalam daftar “Sekian Banyak Hal yang Bisa Saya Lakukan di Dunia Ini”.

Sayang, oh, sayang, karya seni spontan ini tidak berumur panjang.

Segera setelah rokok hasil ngelelet mengering, para peleletnya pun menyalakan korek api untuk membakarnya. Mengganti wujud karya seni tersebut menjadi sesuatu seabstrak asap rokok dengan kandungan nikotin yang sekarang bercampur kafein.

Menghisap rokok lelet Lasem
Membakar rokok setelah dilelet dengan ampas kopi. Ada yang bilang, rasanya lebih pedas. Ada yang bilang, rasanya lebih nikmat. (Foto: Ellen Kusuma)

Ia adalah salah satu orang yang lebih memilih teh ketimbang kopi. Berbasis di Jakarta. Perempuan yang pembawaannya santai, senang solo traveling baik dalam atau luar negeri. Perjalanannya bisa kamu baca di timejumble.wordpress.com

Related Posts

Leave a Reply