Museum di Lasem: Museum Nyah Lasem

Lasem punya museum? Itu yang pertama kali muncul di benak saya ketika Mas Pop, pemandu saya selama di Lasem, mengajak saya untuk mengunjungi museum Nyah Lasem.

Lantaran penasaran, saya segera mengiyakan ajakan itu. Kebetulan saat itu juga sedang ada acara Night at the Museum yang digagas oleh Kesengsem Lasem. Berangkatlah saya malam itu bersama beberapa peserta lain ke museum yang berlokasi di Karangturi Gang IV.

Tampak depan Museum Nyah Lasem saat siang hari di Karangturi Gang IV. (Foto: Astri Apriyani)
Tampak depan Museum Nyah Lasem saat siang hari di Karangturi Gang IV. (Foto: Astri Apriyani)

Unik! Itu adalah impresi yang saya dapat saat pertama kali menginjakkan kaki di lokasi museum. Ada dua bangunan dengan arsitektur berbeda yang berdiri pada satu bidang tanah. Bangunan bercat putih dengan gaya arsitektur Eropa, lengkap dengan kaca patri warna-warni dan hiasan keramik pada dindingnya, memanjang di sisi kiri. Oleh sang pemilik, bangunan tersebut difungsikan sebagai penginapan. Sementara, museum berada di bangunan utama yang bergaya Indis. Teras luas berpilar kayu, lantai gladhak dari kayu, dan pepohonan di halaman memberi kesan asri dan sejuk.

Teras Nyah Lasem yang begitu klasik, tapi menarik. (Foto: Astri Apriyani)
Teras Nyah Lasem yang begitu klasik, tapi menarik. (Foto: Astri Apriyani)

Adalah A. Soesantio, atau biasa dipanggil Om Santio, yang mempunyai ide untuk mengumpulkan dan memamerkan koleksi pribadi keluarganya. Sesudah masuk pintu utama, saya disambut oleh koleksi buku.

Yang paling menarik minat saya adalah buku resep masakan hasil tulisan tangan ibu Om Santio. Mau resep masakan peranakan Tionghoa atau resep kue-kue ala Belanda, semua ada di situ.

Di ruangan sebelah kiri terdapat koleksi yang berhubungan dengan batik. Keluarga Om Santio dahulu menjalankan bisnis batik. Rupa-rupa piranti yang dipakai dalam proses pembuatan batik dipamerkan di situ. Tetapi yang paling menarik perhatian saya adalah koleksi korespondensi bisnis batik sejak era awal abad ke-20. Ada surat bertahun 1936 tentang penawaran harga bahan kimia dalam bahasa Indonesia yang dikirim sebuah toko di Solo, kuitansi yang ditulis dengan aksara Cina dari seorang rekan bisnis di Juwana, ada juga surat pengiriman bahan pewarna dari sebuah firma di Bogor yang ditulis dalam bahasa Belanda. Semua itu seolah bercerita tentang betapa luasnya jaringan bisnis batik di Lasem kala itu.

Koleksi cap-cap batik milik Nyah Lasem, beraneka macam motif. (Foto: Astri Apriyani)
Koleksi cap-cap batik milik Nyah Lasem, beraneka macam motif. (Foto: Astri Apriyani)

Di ruang sisi kanan dan belakang museum dipamerkan barang-barang rumah tangga peninggalan keluarga besar Om Santio, mulai dari mesin jahit manual hingga koleksi karcis lintas zaman. Dan akhirnya di ruangan paling belakang terjawab sudah pertanyaan saya ketika pertama kali mendengar nama museum ini. Nyah Lasem terinspirasi dari panggilan para nyonya rumah di Lasem yang memiliki kekhasan masing-masing, misalnya Nyah Persen dan Nyah Waluh.

Lho, kok dinamai Nyah Persen? Apa ada hubungannya dengan bunga bank? Wah, kalau saya ceritakan semua di sini, nanti enggak asyik lagi. Jadi, ayo kunjungi Museum Nyah Lasem kalau sedang berada di Lasem, dan temukan jawabannya sendiri.

museum nyah lasem
Salah satu koleksi di Nyah Lasem. (Foto: Agni Malagina)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *