Pentas Perpisahan Kiai Nggower

Kapan lagi menyaksikan Didik Nini Thowok menari diiringi gamelan klasik bernama Kiai Nggower di Lasem?

Sebuah tautan mampir di akun media sosial saya akhir Maret lalu. Tautan itu mempertemukan saya pada sebuah publikasi acara seni dan budaya. Kata-kata dalam publikasi tersebut, “Pementasan Tari dan Gamelan Kuno, Pertunjukan Terakhir Sang Kiai Nggower digelar Selasa, 5 April 2016, di Lawang Ombo, Soditan, Gambiran Lasem, Jawa Tengah.”

Berita tersebut berasal dari sebuah komunitas yang menyebut dirinya Kesengsem Lasem, sebuah kelompok yang dibentuk pada awalnya oleh sejumlah individu yang memiliki kesamaan rasa cinta pada Lasem dan sekaligus ingin menjaga kelestarian warisan benda maupun nonbenda yang terdapat di kota kecamatan itu.

 

Gamelan dengan Ragam Hias Tionghoa

Sebuah pementasan tari tradisi dengan diiringi musik dari gamelan sepertinya bukanlah hal yang aneh. Namun, setelah membaca artikel lanjutan di tautan tersebut, barulah saya mengerti apa menariknya acara itu. Kiai Nggower, nama sang gamelan itu bukanlah gamelan biasa. Umurnya seabad lebih. Berat dan ukuran gamelan ini lebih besar dari gamelan yang lazim kita jumpai saat ini.

Sang Kiai diduga dibuat pada akhir abad ke-19. Berulang kali, ia telah berpindah kepemilikan. Dari orang kaya satu ke orang kaya lainnya. Saya pun akhirnya berangkat ke Lasem untuk menghadiri pertunjukan tersebut.

Gamelan laras pelog terbuat dari kuningan ini saat ini dimiliki keluarga Tjoo. Nuansa budaya Tionghoa terlihat jelas pada perangkat kayu berwarna coklat tua penopang perangkat gamelan ini. Terdapat bentuk-bentuk kelelawar dan burung hong berwarna keemasan yang merupakan simbol kemakmuran dan keindahan terukir indah di sana-sini.

Keberadaan gamelan di Jawa telah ada sejak masa kerajaan Hindu Buddha. Hadir dan menyebarnya Islam di tanah ini turut mempopulerkan keberadaan alat musik tabuh ini. Sejumlah wali menggunakan gamelan sebagai pelengkap media dakwahnya di abad ke-14. Karena itulah, gamelan kerap diberi julukan “kiai”.

Suara merdu yang dihasilkan perangkat kuningan ini memang disukai semua orang tak terkecuali masyarakat Tionghoa. Pun demikian dengan masyarakat Tionghoa yang tinggal di Lasem. Pada abad ke 19-20, adalah jamak bagi mereka untuk memainkan gamelan pada setiap upacara adat atau acara keluarga. Meski tak semarak dulu, alunan gamelan masih terdengar mengiring sembahyangan di kelenteng.

Kiai Nggower sejak 1996 ini telah dirawat dengan baik oleh Gandor Sugiharto (Sie Lwie Djan). Usia Gandor kini sudah 70 tahun. Ia mengaku tidak kuat lagi untuk merawatnya. “Tak ada juga orang lain yang mau dan mampu merawat Kiai Nggower,” tuturnya. Gandor pun mengembalikan pusaka Lasem ini pada pemiliknya Soebagio Soekidjan (Tjoo Boen Hong), 53 tahun. Tak ingin gamelannya hanya teronggok di gudang dan rusak karena tak dirawat, dengan hati berat, Soebagio kemudian memutuskan untuk menjual gamelan tersebut.

Sebagai bentuk penghormatan akan panjangnya usia pengabdian sang Kiai Nggower ini, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Karangturi Lasem mengadakan pertunjukan perpisahan. Pada acara ini, para nayaga atau para penabuh akan memainkan sang kiai untuk mengiringi seorang penari. Bukan penari biasa tetapi maestro tari negeri ini, sang legenda hidup, Didik Nini Thowok. Inilah juga jadi alasan bagi saya untuk pergi ke Lasem.

 

Pecinan Tua yang Fotogenik

Lasem secara administratif adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Indonesia. Jaraknya 12 km dari Kota Rembang. Lasem tumbuh dan berkembang pesat di masa lalu. Semua ini buah dari posisinya yang dilalui Jalan Raya Pos yang dibangun pada masa pemerintahan Daendels (1808-1811).

Berbagai julukan disematkan untuk kota kecamatan ini, antara lain: kota santri, kota pusaka, dan kota batik. Daerah ini merupakan penghasil buah-buahan (mangga dan jambu) dan juga hasil laut berupa terasi dan garam.

Tiongkok Kecil adalah julukan lain Lasem. Istilah ini cukup popular dikalangan para pelancong.

Nuansa pecinan masih terasa kuat di Lasem. Tiga kelenteng terdapat di sana. Kelenteng Cu An Kiong adalah satu di ataranya. Kelenteng ini berdiri pada abad ke-14 dan merupakan kelenteng tertua di Lasem.

Nuansa kota yang telah menua sangat jelas terlihat, terutama di daerah Gambiran, Babagan, dan Karangturi. Masih bisa kita jumpai ciri khan bangunan ala negeri tirai bambu, seperti pada bentuk atap rumah yang melengkung seperti ekor walet, simbol kesejahteraan.

Bentuk khas lainnya adalah tembok yang mengelilingi rumah-rumah besar itu dengan pintu gerbang yang khas yang disebut pintu regol. Meski lebih banyak bangunan yang telihat menua dan tak terawat namun kawasan ini bagi mereka yang hobi fotografi adalah objek yang luar biasa menarik.

 

Pesona Klasik Batik Lasem

Tak hanya bangunan bergaya Tiongkok, jumlah rumah/ bangunan bergaya Hindia justru terlihat lebih banyak. Tak sedikit terlihat banguan berpilar di bagian beranda, lantai tegel dengan bagian atap segitiga (limas). Sejumlah rumah tampak kosong, sebagian lainnya tampak dihuni. Biasanya penghuni rumah-rumah tersebut bukanlah sang pemilik. Mereka hanya menempati dan menjaganya. Beberapa rumah besar tersebut berubah fungsi dan disewa oleh para pengusaha batik sebagai tempat produksi batiknya.

Saya dan rombongan datang sehari sebelum pentas Kiai Nggower berlangsung. Berlindung dari teriknya matahari siang Lasem, kami bertamu ke salah satu rumah pembuat batik yang beralamat di Karangturi Gang I, Priscilla Renny.

Seniman tari Didik Nini Thowok (tangan menunjuk), sedang melihat kain batik yang direntangkan oleh Priscilla Renny penerus salah satu perajin batik tulis legendaris Lasem, Maranatha. (Foto: Toto Santiko Budi)
Seniman tari Didik Nini Thowok (tangan menunjuk), sedang melihat kain batik yang direntangkan oleh Priscilla Renny penerus salah satu perajin batik tulis legendaris Lasem, Maranatha. (Foto: Toto Santiko Budi)

Renny demikian ia akrab disapa adalah putri dari Naomi Susilowati Setiono (alm.) pembuat batik tulis klasik halus yang dikenal dengan merek Maranatha. Batik yang mereka buat terinspirasi dari motif batik klasik Lasem yang telah dibuat oleh para leluhur sejak tahun 1700-an.

Keberadaan Lasem yang ada di pinggir pantai berpengaruh pada motif batik yang dihasilkan. Motif batik yang demikian ini dikenal sebagai batik pesisiran. Termasuk dalam motif ini adalah gambaran tentang gunung, bunga, butiran pasir, kupu-kupu dan latoh (rumput laut).

Motif batik klasik yang dibuat Renny penuh dengan detail dan dikerjakan dengan sangat hati-hati. Tak heran bila harga batik Maranatha ini cukup mahal. Meski demikian batik Maranatha banyak diincar para kolektor karena keindahannya. Sambil mengobrol, Renny beberapa kali menunjukkan karya batik terbarunya. Saya tak berani bertanya harga. Melihat bentuknya saja saya yakin kalau batik karyanya ini harganya mencapai paling tidak 6 digit.

 

Sang Penari Berburu Batik

Tiba-tiba, di tengah-tengah keasyikan mengobrol datang tamu istimewa. Sang bintang pertunjukan pentas Kiai Nggower hadir di Karang Turi. Ya, Ia adalah sang penari yang lebih dikenal dengan nama panggungnya Didik Nini Thowok ketimbang Didik Hadiprayitno atau bahkan nama saat lahir Kwee Tjoen Lian (Temanggung, 13 November 1954).

Kedatangan Didik ini bukan tak sengaja, ia tengah mencari kain yang akan ia kenakan saat menarikan tari klasik Surakarta, Gambyong Pareanom. “Saya harus memakai kain yang ada ruh Lasem di dalamnya. Saya akan menari sebagai Nyai Lasem,” jawab Didik saat ditanya mengapa ia mencari batik Lasem.

Didik dikenal sebagai penari cross gender, laki-laki yang membawakan tarian perempuan. Didik tampil untuk pertama kalinya sebagai penari perempuan lengkap dengan kebaya dan bersanggul adalah pada tahun 1972.

Selanjutnya, Didik dan Renny terlibat diskusi yang seru saat memilih kain batik. Sang penari akhirnya memilih kain batik Sarung Semarangan Tambal Sapu Tangan untuk ia kenakan sebagai jarit. Sebelumnya Didik juga telah memilih kain Batik Bledak Ikan 3 Warna dari Pusaka Beruang yang akan ia kenakan sebagai penghias pinggul.

Sebelum mohon diri dari kediaman Renny, saya menyempatkan diri memohon izin ke Mas Didik agar diperbolehkan memotret saat ia tengah melakukan berbagai persiapan sebelum pentas.

Sore itu, saya mendatangi Omah Lawang Ombo, rumah tempat pementasan dilangsungkan. Sesuai dengan namanya Lawang Ombo (bahasa Jawa) yang artinya Pintu Besar, rumah yang kini dimiliki Soebagio ini memang memiliki kusen, daun pintu utama yang ukurannya sangat besar, jauh lebih besar bila dibandingkan dengan rumah-rumah lain yang ada di Pecinan Lasem.

Suara gamelan yang dimainkan terdengar sampai di jalan di depan rumah. Begegas saya masuk ke dalam. Melintasi altar pemujaan leluhur menuju ke bagian belakang rumah. Sejumlah anak dari kelompok tari SD Dorkas, Lasem tengah berlatih. Mereka akan mementaskan tarian dolanan. Para nayaga atau pengrawit dan pesinden juga tampak berlatih dengan serius.

 

Didik Ninik Thowok Menari Diiringi Kiai Nggower

Proses malih wujud dari laki-laki menjadi Nyai Lasem hampir tuntas. Didik mengenakan bross di kemben. Tak sekedar sebagai aksesori, bros ini juga mengamankan posisi selendang agar tidak melorot dari bahu. Hampir keseluruhan proses malih wujud ini ia kerjakan sendiri. Mulai dari make up wajah, memasang bulu mata, mengenakan kain. Hanya saat mengenakan korset saja ia perlu sedikit bantuan.

Persiapan Didik Nini Thowok ebelum menari di Pentas Terakhir Kiai Nggower di Lasem. (Foto: Toto Santiko Budi)
Persiapan Didik Nini Thowok ebelum menari di Pentas Terakhir Kiai Nggower di Lasem. (Foto: Toto Santiko Budi)

Silih berganti sambutan pejabat setempat hadir di panggung. Sementara sang penari sibuk melayani permintaan foto bersama. Saya menikmati kopi lelet dan gorengan yang disajikan di halaman depan Omah Lawang Ombo.

Sebelum pertunjukan utama, hadir di panggung para penampil lain. Keriaan anak-anak lasem yang menghadirkan dolanan mampu menghibur para penonton. Tak hanya itu, hadir juga Sanggar Tari Asri Ana Budaya Lasem pun memikat mereka yang hadir. Saat yang dinanti-nanti tiba. Pembawa acara memanggil sang bintang utama.

Nyai Lasem pun muncul dari arah belakang para penonton dan undangan. Didik kemudian membawakan dua tarian dalam pertunjukannya di Lasem kali ini. Tari Gambyong Pareanom dibawakannya lebih dulu. Diiringi alunan langgam lagu yang mengalun dari Gamelan Kiai Nggower, gerak tubuh sang penari tampak luwes dan gemulai. Sesekali bahasa tubuhnya menggoda penonton. Kerlingan mata maupun goyangan pantat menggoda ia suguhkan tatkala menari. Bukan Didik namanya kalau ia tampil tanpa pelesetan. Bahkan saat ia menarikan tarian serius seperti Gambyong ini pun Didik tidak sekali mengganti sunggingan senyum dengan memencong-mencongkan bibirnya.

Didik Nini Thowok membawakan Tari Gambyong di Pentas Terakhir Kyai Nggower di Lasem. (Foto: Toto Santiko Budi)
Didik Nini Thowok membawakan Tari Gambyong di Pentas Terakhir Kyai Nggower di Lasem. (Foto: Toto Santiko Budi)

Tari kedua yang dibawakan Didik lebih banyak unsur komedinya. Lima topeng dan Lima kostum ia bawakan secara bergantian. Gelak tawapun seakan tak putus saat tarian Pancawarna ini ia tarikan. Keesokan harinya, saya melihat gamelan-gamelan itu dinaikkan satu persatu ke dalam truk barang untuk selanjutnya diantarkan menuju gudang.

Sejauh ini, belum ada keputusan tentang kepada siapa nantinya gamelan ini akan dijual. Penawar disebut-sebut sudah banyak. Didik Nini Thowok sendiri berharap gamelan bersejarah itu akan tetap berada di rumahnya dan suatu saat tampil kembali di depan masyarakat Lasem. Pusaka sejarah selayaknya tak punah ditelan zaman. Di akhir hari, Didik Nini Thowok begitu bahagia bisa ikut ambil bagian menari di Lasem diiringi Kiai Nggower.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *