Nikmatnya Tempe Bungkus Daun Jati Mbah Masripah

Kalau Anda ke Lasem dan sempat makan di beberapa warung makan tradisional yang menyajikan tempe goreng renyah berbumbu gurih, mungkin Anda bertanya-tanya asal tempe tersebut. Bukan begitu?

Jika melihat dari depan, sama sekali tidak menduga kalau inilah tempat tempe enak diproduksi. (Foto: Astri Apriyani)
Jika melihat dari depan, sama sekali tidak menduga kalau inilah tempat tempe enak diproduksi. (Foto: Astri Apriyani)

Beberapa tempat makan tradisional yang terkenal di Lasem memang menyediakan tempe goreng yang beraroma khas. Jangan salah, tempenya asli berasal dari Lasem. Salah satunya adalah dari Rumah Tempe Mbah Masripah di kawasan Pasar Sumbergirang.

Produsen tempe rumahan ini sudah beroperasi lebih dari 30 tahun. Mereka rutin menjadi pemasok tempe di sejumlah warung makan. Bahkan, banyak pelanggan yang masih setia mengonsumsi tempe legendaris yang memiliki bentuk unik: segienam! Pelanggan dari luar kota kerap juga khusus datang membeli tempe segienam ini jika mampir di Lasem. Mereka jadikan tempe tersebut sebagai oleh-oleh. Ide bagus, ya. “Bahkan kalau hari Lebaran, banyak pelanggan luar kota yang datang. Lebaran, kami tetap buka, silaturahmi sekalian melayani pelanggan,” ujar Yanti sambil membungkus tempe segienam dengan cekatan. “Mau coba?” tanyanya dengan derai tawa.

Rumah Tempe Mbah Masripah ini terletak di komplek kota tua Lasem Desa Sumbergirang. Tepatnya di gang Pasar Sumbergirang. Di pasar tersebut, ada sebuah rumah berarsitektur Cina Hindia yang ditempati oleh anak dan menantu Mbah Masripah (almarhum). Adi Sampurno dan istrinya, Yanti, kini meneruskan bisnis pembuatan tempe segienam milik Ibu Masripah. Yanti sendirilah yang kini terlibat langsung memproduksi tempe tersebut. Ia sudah belajar membuat tempe pada ibu mertuanya sejak 2003.

Mbak Yanti--sebelah kanan--sedang membuat tempe dibantu seorang pegawai di teras belakang rumah. (Foto: Astri Apriyani)
Mbak Yanti–sebelah kanan–sedang membuat tempe dibantu seorang pegawai di teras belakang rumah. (Foto: Astri Apriyani)

Setiap hari, Yanti ditemani oleh ‘hanya’ seorang pegawai membungkus tempe dengan daun jati. Ada dua bentuk bungkusannya: segienam dan segiempat. Harga tempenya ia banderol Rp3.000 untuk tempe segienam dan Rp2.000 untuk segiempat. Tempe biasa satu ikatnya berisi 12 potong tempe dihargai Rp3.500.

Proses pembuatan tempenya cukup panjang, mulai dari merebus kedelai, menggiling kedelai, mencuci kedelai, dan direbus kembali keesokan harinya kemudian dibungkus, dan didiamkan sampai siap dikonsumsi. Yang istimewa, tempe produksi Rumah Tempe Mbah Masripah dibuat dengan menggunakan ragi organik.

Jamur alami yang menjadi pengganti ragi untuk membuat tempe. (Foto: Astri Apriyani)
Jamur alami yang menjadi pengganti ragi untuk membuat tempe. (Foto: Astri Apriyani)

Jamur yang sudah menempel di daun jati, disebarkan ke dalam kedelai bahan tempe.

“Jamur untuk tempenya berasal dari ragi alami yang menempel di daun jati tempe produksi sebelum ini. Jadi, tidak perlu membeli ragi lagi,” ujar Yanti sambil memperlihatkan cara membungkus tempe segi enam. Sepertinya, Yanti sukses menerapkan prinsip recycle dan reuse, ya.

Begini cara melipat bungkus tempe di Rumah Tempa Mbah Masripah. Kali ini, bentuknya adalah segienam. (Foto: Astri Apriyani)
Begini cara melipat bungkus tempe di Rumah Tempa Mbah Masripah. Kali ini, bentuknya adalah segienam. (Foto: Astri Apriyani)

Setelah dibungkus dengan daun jati, tempe disimpan selama 4 hari, lalu siap dikonsumsi.

Penasaran ingin melihat proses pembuatan tempenya? Datang setelah pukul 08.00 pagi ke Rumah Tempe di Sumbergirang saja. Mbak Yanti akan mulai membungkus tempe setelah ia pulang berbelanja di pasar. Jangan kesiangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *