Bodo Kupat Saat Lebaran di Lasem

Bagaimana perayaan Idul Fitri kemarin? Seru nggak? Sudah makan apa saja? Pasti tidak ketinggalan makan opor ayam dan ketupat, ‘kan?

Masih dalam suasana Lebaran, saya ingin menceritakan budaya khas Rembang, termasuk Lasem, yang dilakukan setiap hari raya yang fitri ini. Namanya, Bodo Kupat.

 

Apa itu Bodo Kupat? Sesuai arti katanya, “bodo” berarti lebaran, dan “kupat” adalah ketupat. Jadi, Bodo Kupat adalah hari ketika hampir semua orang, khususnya di Lasem, memasak ketupat, opor ayam, dan lepet (makanan gurih terbuat dari ketan, kelapa, dan kacang merah).

Bodo Kupat biasanya dilakukan setahun sekali, tepatnya seminggu setelah Idul Fitri.

Kenapa seminggu setelah Idul Fitri? Lalu, saat hari H lebaran, orang Lasem makan apa?

Nah, saat Idul Fitri, warga Lasem makan opor ayam dengan nasi, seperti hari-hari biasa. Baru seminggu setelahnya, orang-orang Lasem membuat ketupat dan lepet untuk dimakan bersama opor ayam.

Apa saja yang harus dipersiapkan untuk menyambut Bodo Kupat? Umumnya, sehari sebelum Bodo Kupat, di pasar akan banyak ditemui penjual janur ketupat, baik yang sudah dianyam bentuk ketupat ataupun belum. Kalau pergi ke pasar pas Bodo Kupat, kamu tidak akan menemukan siapa pun. Pasar tutup. Makanya, satu hari sebelum Bodo Kupat, pasar ramai dengan orang yang belanja.

 

Lalu, kegiatan kedua yang biasa terjadi pas Bodo Kupat di Lasem, atau tepatnya di Desa Brangkal, Jolotundo Sidomakmur, desa tempat tinggal saya, yaitu menggantungkan ketupat dan lepet di belakang pintu rumah. Kebiasaan ini dilakukan warga desa untuk menunjukkan rasa syukur karena masih bisa menikmati lebaran dan bisa mencicipi ketupat dan lepet tersebut. Kebiasaan satu ini memang sudah jarang dilakukan orang Lasem, tetapi masih ada segelintir yang melakukannya.

 

Kebiasaan lain saat Bodo Kupat adalah berwisata. Sebagai contoh, saat Bodo Kupat, Taman Kartini di Rembang akan sangat ramai dari pagi sampai malam. Kenapa? Karena banyak yang menjual pernak-pernik aksesori, perlengkapan rumah, sampai perlengkapan bayi. Kita mungkin lebih mengenalnya dengan nama bazaar.

 

Terima kasih sudah membaca artikel ini. Jangan lupa membaca artikel-artikel lainnya, ya!

 

Salam semangat dari Lasem!
Rizka Utami Aulia Rahman (IG @rizkautatao)
Lovena Reza Azzahra (IG @lovenaxrezza)
Djirohmah Aprilia M (IG @apriliacans)

One Comment

  1. Franciscus Nanang Triana

    Bagus sekali artikelnya. Tapi saya mau komentar sedikit untuk penulisan lebaran dalam bahasa Jawa, seharusnya ditulis “bada” atau “bakda”. Kalau ditulis “bodo” artinya bodoh. Tks

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *