Kesengsem Lasem

Tagar #kesengsemlasem yang artinya ‘tergila-gila pada Lasem’ adalah sebuah ‘gerakan perasaan’ yang diprakarsai oleh sejumlah pelancong yang memiliki minat khusus pada kota tua Lasem dan kehidupan sosial di dalamnya.

Semua kisah berawal dari perjalanan penelitian seorang peneliti dari FIB Universitas Indonesia Agni Malagina dan fotografer National Geographic Indonesia Feri Latief. Mereka membuat laporan untuk edisi Imlek majalah National Geographic Indonesia dan NGI Traveler bulan Februari 2016. Sejak Agustus 2015, mereka mulai bergiat bersama teman-teman mereka di Lasem dan kembali berulang kali untuk mematangkan penelitian dan tangkapan lensa mereka. Bukan tanpa alasan komunitas Kesengsem Lasem ini memprakarsai #kesengsemlasem. Komunitas ini memiliki basis teknologi di kota Lasem dan didukung oleh orang-orang lintas profesi dan lintas daerah. Penggiat gerakan ini berbasis di pelbagai daerah, Jakarta, Solo, Yogyakarta, Semarang, Rembang, dan Lasem. Terdiri dari jurnalis, peneliti, dosen, fotografer, mahasiswa, siswa, santri, penggiat kota pusaka, pengusaha, ibu rumah tangga, guru, dan lainnya.

Kegiatan awal komunitas ini adalah menggunakan hasil tangkapan panca indera berupa tulisan dan foto mengenai kota tua Lasem untuk menumbuhkan kecintaan dan kepedulian warga Lasem pada warisan budaya dan pusaka Lasem. Tak muluk-muluk, #kesengsemlasem hanya merupakan kegiatan kepedulian terhadap Lasem di media sosial seperti page facebook, instagram, twitter, steller, website dan radio internet – Kesengsem Lasem. “Kami punya banyak koleksi foto. Saya pikir sayang sekali jika foto-fotonya mas Feri Latief disimpan dalam hardisk ya?,”ujar Agni yang kemudian meminta ijin kepada fotografer yang senang dengan tema human interest itu untuk membagikan foto-foto tersebut di media sosial. Bahkan kemudian ide membuat gerakan media sosial pun ramai-ramai diamini oleh para inisiator komunitas Kesengsem Lasem seperti Feri Latief, Astri Apriyani, Ellen Kusuma, Stephanus Hannie, Romy Yulius, Rudy Hartono, Alex Wahyudi, Baskoro, Syefri Luwis, Agni Malagina, Kusuma Rully.

Pasca laporan Agni Malagina dan Feri Latief di majalah National Geographic Indonesia dan NGI Traveler edisi Februari 2016 terbit, komunitas Kesengsem Lasem pun mulai menyebarkan virus #kesengsemlasem pada tanggal 9 Februari 2016 di Lasem. Tepatnya sehari setelah perayaan Imlek. Dipilihnya kata ‘kesengsem lasem’ pun merupakan sebuah pengalaman unik tersendiri. “Pencetusnya (kesengsem lasem) itu Ellen,” ujar Agni. Ia melanjutkan, “waktu itu saya kebingungan ketika editor NGI meminta deskripsi tentang apa kesan penulis terhadap Lasem, saya curhat ke Ellen di WA, dan dia mengeluarkan pilihan kata kesengsem lasem itu! Rangkaian kata itu sangat indah dan bunyinya berima.”

Kesengsem Lasem mulai berkegiatan dengan mengambil langkah awal berusaha untuk membangkitkan kepedulian dan kebanggaan warga kota tua Lasem dan keturunannya terhadap warisan tangible dan intangible yang dimiliki Lasem. Dimulai dengan unggah gambar di instagram dengan aneka foto dari para kontibutor rekan-rekan sepermainan yang bersama-sama datang ke Lasem. Demikian juga unggah artikel dan foto di website dan laman page facebook. Aksi tersebut menuai banyak komentar, terutama dari orang-orang Lasem yang telah pindah ke berbagai kota-kota lainnya. “Itu kota kelahiran saya, rindu sekali lihat foto-foto ini,” ujar Inge Chandra menuliskan komentarnya di page FB, ia lahir di Lasem dan telah pindah ke Manado lebih dari dua dekade. Tak jarang juga beberapa muda-mudi siswa sekolah setingkat SMA dan mahasiswa asal Lasem yang aktif menggunakan instagram pun mulai banyak yang menggunakan tagar kesengsemlasem.

Kesengsem Lasem sendiri bukanlah sebuah lembaga formal yang memerlukan keanggotaan, komunitas ini terbuka bagi siapapun yang ingin bersama-sama mencintai warisan budaya dan sejarah di Lasem. Kegiatan pun berlanjut ketika komunitas Kesengsemlasem bersama Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Karangturi bersama-sama menyelenggarakan pementasan gamelan berusia lebih dari seabad yang hendak dijual oleh pemiliknya. Acara tersebut diadakan tepat bersamaan dengan upacara Cengbeng (ziarah kubur) warga Tionghoa Lasem pada tanggal 5 April 2016. Dalam pementasan tersebut seniman asal Yogyakarta, Didik ‘Nini Thowok’ Hadiprayitno membawakan tari Gambyong yang diiringi gamelan tersebut.

Narasi ini ditulis oleh tim Kesengsem Lasem, dimuat di http://infoselebriti.asia/2016/06/14/kesengsem-lasem-wadah-berkumpulnya-pecinta-lasem/