Telisik Motif Batik di Kota Tua Lasem

 

 

Batik tulis Lasem (Rumah Batik Sekar Kencana, Sigit Witjaksono)

 

 

Kota Lasem orang poen sering seboet Kota Batik, kerna Batik industrie di sana ada besar sekali dan penting. Bagimana besar dan pentingnja itoe batik industrie jang berada seanteronja dalem tangannja fihak Tionghoa di Lasem, itoelah orang bisa bajangken sendiri. Ampir sasoeatoe anak Tionghoa dari Lasem kaloe di tanja oleh orang tentang pakerdjahan apa jang orang toeanja diroemah ada lakoeken, selaloe kasi penjaoetan : “Peroesahan batik!” Kengpo, 25 November 1934

 

Oleh: Dr. Lilawati Kurnia, Dr. Sonya Suganda, Agni Malagina M.Hum, Suwanti

 

Lasem, sebuah kota kecamatan bagian dari Kabupaten Rembang di pesisir pantai utara, berjarak 12 km dari kota Rembang. Kota ini memiliki luas wilayah 4.504 hektare dan dilalui oleh Jalan Raya Pos yang dibangun pada masa pemerintahan Daendels (1808-1811). Berkat jalan raya itu pula Lasem berkembang. Belakangan, kota ini mendapat aneka julukan mulai dari kota batik, kota santri, kota tua, kota pusaka, hingga Tiongkok Kecil dan Beijing Kecil

Nama Lasem tercatat dalam kronik Nusantara dan Cina selama beberapa abad membuktikan bahwa Lasem menjadi tujuan dan tempat favorit para perantau asal Cina. Sejak abad ke 14, orang-orang Cina berlayar dengan jung-jung menuju Nusantara dengan aneka misi—ekspedisi, mencari penghidupan yang lebih baik, melarikan diri dari bencana alam dan kisruh politik, berdagang dan lainnya. Secara umum para peneliti seperti Borel, Ong Eng Die, Reid, Salmon, Wang Gong Wu, dan lainnya menyebutkan bahwa orang Cina di Nusantara berasal dari pesisir pantai selatan Cina, Fujian dan Guangdong. Jumlah etnis Cina pada abad 19 sampai awal abad 20 di Rembang – Lasem menempati urutan ke 3 setelah Batavia dan Semarang. Hal ini menunjukan bahwa Rembang Lasem merupakan salah satu tujuan utama imigran Cina di Hindia Belanda. Kontak budaya Cina Jawa meninggalkan hasil karya berupa batik pesisir utara yang terkenal dengan sebutan Batik Lasem. Perkembangan batik di Lasem, konon dimulai sejak masa Na Li Ni atau Si Putri Campa istri Bi Nang Un, seorang anggota ekspedisi Cheng He (1405-1433) yang memperkenalkan teknik membatik pada abad ke-15. Masa keemasan perusahaan batik yang dibangun oleh orang-orang Cina Lasem dimulai sekitar 1860-an. Perusahaan batik saat itu merupakan usaha yang paling menguntungkan setelah perdagangan candu. Pengusaha batik Lasem mengandalkan 2.000-an pekerja untuk proses artistik dan 4.000-an pekerja untuk proses lainnya.

Motif batik Lasem pun mendapat pengaruh corak simbolik tradisi Cina yang bersanding dengan motif lokal. Namun, mereka juga menambahkan corak lokal seperti satwa, puspa laut, dan corak kricakan yang melambangkan masyarakat Lasem saat bekerja rodi membangun Jalan Raya Pos. Mereka pun membuat kain batik panjang dan kain tokwi sebagai penutup meja altar persembahan. Batik Lasem masa itu diekspor secara besar-besaran ke Singapura dan Sri Lanka. Jelang 1970-an batik Lasem mulai mengalami kemunduran.

Setelah batik diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO pada tahun 2009, batik Lasem yang sempat mengalami penurunan mulai bergairah kembali kini berkembang. Saat ini, tahun 2016, hanya beberapa keluarga di kota tua (pecinan) Lasem yang masih berjuang melanjutkan usaha batik warisan keluarganya. Kini terdapat enam rumah batik di kota tua Lasem yang masih bercirikan batik pecinan. Begitu banyak motif khas batik kota tua Lasem yang memiliki aneka jenis penamaan dan kisah dalam selembar kain belum tercatat dan hanya menjadi pola turun temurun. Pola tersebut diturunkan dari generasi sebelumnya melalui pembatik-pembatik yang berpuluh-puluh tahun membatik untuk pengusaha batik pecinan Lasem. Oleh karena itu, motif dan narasi batik Lasem tidak terdokumentasi dengan baik, cenderung sporadis tersebar dalam memori para pembatik. Hal ini merupakan permasalahan utama dalam rumah batik pecinan Lasem. Para pengusaha batik dan pembatiknya terbiasa menyimpan khasana motif dengan cara mengingat. Hal ini pun memunculkan kekhawatiran di kalangan pengusaha batik itu sendiri. Mereka banyak membuat motif batik yang umum diturunkan oleh generasi terdahulu terkadang tanpa mengetahui makna simboliknya, terutama yang berhubungan dengan simbol Cina-Jawa. Narasi kisah batik lawas yang direproduksi pun menjadi kisah yang sering disebut sebagai pakem ‘dari sananya sudah begitu’. Padahal, motif dan narasi batik Lasem memiliki aneka kisah dan simbolisme yang diambil dari budaya Cina-Jawa.

Kini kota tua Lasem tengah tumbuh menjadi tujuan wisata yang mulai diperhatikan pemerintah daerah. Bahkan pemerintah daerah telah membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Karangturi Lasem untuk mengembangkan wisata di Lasem. Sehingga para pemilik rumah batik merasa memerlukan bantuan untuk inventaris narasi dan motif batik khas kota tua Lasem untuk mendukung kegiatan program pengembangang wisata kota tua. Oleh karena itu, peneliti memandang bahwa inventaris motif dan narasi batik lasem kawasan kota tua perlu diadakan untuk mendukung wisata pusaka kota tua Lasem mengingat batik merupakan salah satu warisan pusaka baik tangible (kain) dan intangible (motif, narasi) yang akan turut membangun wisata pusaka kota tua Lasem yang terkenal memiliki bangunan kuno berlanggam Fujian, Indische Empire, Cina Hindia dan Kolonial.

Untuk mengumpulkan data maka tim peneliti menggunakan metode pelaksanaan kegiatan menjelaskan solusi yang ditawarkan untuk mengatasi permasalahan adalah melakukan inventaris narasi dan motif batik di 11 rumah batik kota tua Lasem yaitu: Batik Sekar Kencana, Batik Purnomo, Batik Maranatha, Batik Katrin, Batik Padi Boeloe, Batik Pusaka Baruang, Batik Kijang Mas, Batik Nyah Kiok, Batik Nyah Sutra. Peneliti kemudian melakukan analisa terhadap motif batik yang memiliki motif simbol Cina dan motif lokal. Membuat katalog tertulis maupun online tentang batik kota tua Lasem yang dapat digunakan untuk mengembangkan wisata telusur batik kota tua Lasem. Katalog online akan dipublikasikan pada laman yang dikelola oleh komunitas kelompok sadar wisata Karangturi Lasem. Katalog motif batik tulis Lasem yang akan disumbangkan kepada Kelompok Sadar Wisata Karangturi Lasem untuk diunggah dalam laman www.kesengsemlasem.com, sebuah laman yang terintegrasi dengan platform media sosial dari gerakan #kesengsemlasem untuk membangun kesadaran pelestarian Kota Tua Lasem dan promosi wisata berwawasan pelestarian lingkungan.

 

Perkembangan Batik Lasem pada abad 19 – 20

Industri batik pada abad 19 merupakan salah satu industri rumahan yang banyak dikembangkan oleh orang Tionghoa di Hindia Belanda. Menurut Kong Yuanzhi, semula orang Indonesia menggunakan kain tenun setempat sebagai bahan batik tulis. Namun lama-kelamaan, para pengusaha batik Tionghoa menggunakan kain impor sehingga kualitas kain batik semakin lama semakin halus. Pada kurun masa tersebut mulai muncul penggunaan blok tembaga sebagai alat cap pada batik.

Dari kutipan salah satu koran Melayu Tionghoa terbesar di Hindia Belanda tersebut dapat diketahui bahwa Lasem telah terkenal sebagai Kota Batik bahkan pada era 1930an. Bahkan jauh sebelum itu, pada tahun 1873 telah disebutkan bahwa Lasem yang merupakan bagian dari Residen Rembang hanya memiliki batik tulis menggunakan canting. Lebih lanjut dalam artikel tersebut dikabarkan bahwa:

“Perdagangan disini (Lasem) ada rame. Teroetama penting jalah export dari sarong – sarong (sarong Lasem) barang mana banjak sekali dikirim pergi ke Singapore d.l.l. tempat. Harga dari itoe Export sarong ada berdjoemblah kira – kira 3.000.000 roepia dalem satoe taon. Djadi dalem satoe taonnja kira – kira f 3.000.000 (zegge : tiga millioen roepiah) oewang dari loear negri masoek di kota Lasem boeat tjoema goena beli sarong Lasem sadja. Atawa per boelan oeang dari loear poelo Java jang djato dalem tangannja handelaren Tionghoa di Lasem berdjoemblah f 250.000. (zegge : delapan riboe ampat ratoes roepiah) dalem satoe harinja!…. Tida melaenken di tempat – tempat dalem poelo Java sadja batik Lasem banjak disoeka dan diminta, tapi poen boeat di loear Java, oepama di Tanah Sebrang dan djadjaran Inggris, batik Lasem tida koerang populairnja!”

Dikutip dari koran Kengpo yang sama, Lasem dan perusahaan batiknya tercatat dalam Beknopte Encyclopaedie van Nederlandsch Indie yang terbit 1921 yang menyebutkan bahwa produksi batik tulis Lasem merambah pasar internasional seperti Singapur dengan omset pertahunnya mencapai 3.000.000 gulden/tahun dengan rata-rata pendapatan perhari mencapai 250.000 gulden. Dalam artikel tersebut juga mengutip laporan Batikrapport 1934, disebutkan bahwa batik Lasem yang berupa sarung banyak digemari oleh penduduk luar Jawa dan luar negeri, terutama di daerah Sumatera, Kalimantan, dan beberapa negara-negara di bawah pemerintahan Inggris. Pada pertengahan abad 19, Lasem sudah menjadi Kota Batik yang memiliki 120 perusahaan batik. Pada saat yang bersamaan Pekalongan memiliki 60 perusahaan batik, Solo memiliki 60 perusahaan batik, dan Banyumas memiliki 77 perusahaan batik. Hal ini menunjukkan bahwa Lasem telah menjadi salah satu kota batik terbesar di Hindia Belanda pada pertengahan abad 19. Namun amat disayangkan bahwa pada pertengahan abad 20, batik tulis Lasem mengalami kemunduran seperti yang telah diungkapkan pada bab sebelumnya.

Sejak masa awal berdirinya rumah-rumah batik tulis Lasem pada pertengah abad 19, batik Lasem telah menjadi salah satu batik khas di pesisir pantai utara Jawa. Batik Lasem sempat terkenal merambah pasar manca negara terutama di Asia Tenggara untuk kemudian mengalami kemunduran pada pertengahan abad 20. Berbagai kendala pengembangan batik tulis Lasem menjadi sorotan utama oleh peneliti batik Lasem. Salah satu kendala yang menjadi perhatian adalah mengenai makna motif yang tidak terdokumentasi dengan baik.

Batik Lasem merukapan karya batik yang memuat budaya akulturasi antara budaya Cina dan Jawa. Seperti telah dijelaskan pada bab pertama, Lasem merupakan kota yang dibangun oleh orang-orang Cina pada abad 18-19 terutama pada saat masa perdagangan candu berkembang di Hindia Belanda. Lasem bersama Rembang dan Juwana menjadi corong candu, pusat pendaratan kapal candu dan penyebaran candu di Pulau Jawa. Pemegang hak penjual (pachter) candu terbanyak adalah orang Cina. Keuntungan yang didapat oleh para pachter candu dari perdagangan dan penyelundupan candu di Lasem sampai saat ini masih terasa jejaknya berupa dua ratusan bangunan tua berarsitektur Cina Fujian, Indische Empire, Cina Hindia, dan Kolonial yang banyak dijumpai di sekitar komplek kota tua Lasem yaitu Soditan-Gambiran, Karangturi, Babagan, dan Gedongmulyo. Pada saat perdagangan candu mengalami kemunduran, perusahaan batik muncul seolah menjadi salah satu usaha yang muncul setelah perdagangan candu tidak lagi mendatangkan keuntungan.

 

Proses Pembuatan Batik

Peralatan

Batik tulis Lasem menggunakan peralatan canting, ragangan, pemanas malam dan pewarna kimia. Pada abad 19, pewarna alami cukup banyak digunakan. Misalnya warna merah menggunakan akar mengkudu, warna biru menggunakan pohon indigo dan lainnya. Pada awal abad 20, pewarna kimia mulai digunakan. Pewarna tersebut didatangkan dari Eropa. Kemudian pada tahun 1960an pewarna kimia mulai dapat diproduksi di Indonesia, sehingga pewarna kimia dari Eropa tidak lagi digunakan.

Proses

Proses pembuatan batik tulis Lasem pada dasarnya tidak jauh berbeda dengan proses pembuatan batik di daerah lain seperti Batang, Pekalongan, Surakarta maupun Yogyakarta. Batik Lasem tentu menjadi unik dan berbeda dengan batik lain atau batik pesisiran pada umumnya karena warna merahnya yang sering disebut merah ‘getih pitik’ atau ‘darah ayam’. Menurut Renny Ong’s Maranatha, warna merah tersebut bukan berasal dari darah ayam, namun hanya istilah saja. Warna merah yang dihasilkan dari campuran pewarna buatan dengan air Lasem menjadikan warnanya merah unik, menurutnya kemungkinan karena kandungan mineral dalam air di Lasem yang membuat warna merah muncul dengan warna ‘getih pitik’.

Proses pembuatan batik Lasem:

  1. Diketeli
  2. Digarisi
  3. Pola
  4. Nglengkreng
  5. Isen-isen
  6. Diterusi
  7. Nembok
  8. Diwarna
  9. Dilorot
  10. Dibatik lagi (diulang proses dari celup, tembok, celup tembok)
  11. Dilorot
  12. Dijemur
  13. Selesai

Secara umum, karakter dan motif batik tulis Lasem dapat dijabarkan dalam skema berikut ini:

Bagan Klasifikasi Batik Tulis Lasem

 

 

 

 

 

 

 

Warna

  1. Klasik

Warna klasik merupakan warna sesuai pakem terdiri dari warna merah, biru, kuning, dan soga. Keempat warna dasar tersebut dapat dikombinasikan menjadi wana Bang-Biron, Tiga Negeri, Empat Negeri, dan Es Teh.

  1. Modern

Warna baru selain warna klasik di atas. Biasanya berupa warna-warna baru yang bersifat ekperimental dan memenuhi kehendak pasar.

Motif

  1. Motif lokal terdiri motif pesisir dan pedalaman. Motif pesisir biasanya berupa motif khas Lasem yang merupakan daerah pesisir, contohnya latohan (rumput laut), kricak (batu kerikil atau pecahan batu), sawut, dan lainnya. Motif pedalaman biasanya merupakan motif batik dari daerah pedalaman seperti motif batik Solo atau Yogyakarta, contohnya kawung, parang, dan lainnya
  2. Motif akulturasi merupakan motif khas daerah pesisir utara yang biasanya dipengaruhi oleh motif-motif simbolis kebudayaan Cina. Motif-motif ini merupakan harapan sekaligus representasi kebudayaan para pengusaha batik yang berlatar belakang etnis Cina. Batik akulturasi berkembang sejak abad 19 terutama di daerah pantai utara Jawa, tersebar mulai dari Batavia, Cirebon, Tegal, Brebes, Pekalongan, Semarang, Lasem, sampai Pasuruan.

Pembagian Bidang

  1. Siang Malam: Kain dibagi dalam dua bidang kanan kiri. Memiliki warna kontras satu sama lain, warna tidak senada.
  2. Pagi Sore: Kain dibagi dalam dua bidang kanan kiri. Memiliki warna kontras namun senada.

Fungsi

  1. Sarung: Kain sarung berukuran lebih pendek dari kain tapeh, dijahit menyerupai sarung, panjang kurang dari 2 meter.
  2. Tapeh (kain panjang): Kain berukuran panjang biasanya lebih dari 2 meter.
  3. Selendang: Kain gendongan bayi
  4. Tokwi: Kain penutup meja altar, berbentuk bujur sangkar, berukuran 1,25 x 1,25 meter
  5. Langitan: Kain penutup langit-langit, berkuran 2,1 x 2,4 meter, jaman dahulu digunakan sebagai penutup langit-langit saat pesta pernikahaan berlangsung. Saat ini biasanya berfungsi sebagai penutup ranjang (bed cover).

 

Tentang Tokwi

Kain batik tulis Lasem sebagai sarung, kain panjang, selendang merupakan hal yang sering digunakan sehari-hari oleh warga. Namun, hal menarik adalah produksi kain Tokwi, kain penghias meja altar sembahyang bagi masyarakat Cina. Pada saat penelitian lapangan yang berlangsung pada bulan Agustus 2016, kami sempat mengabadikan beberapa altar keluarga pemilik rumah kuna di Lasem yang terdapat kain penutup bagian depan meja bermotif naga, naga – burung hong, Delapan Dewa, kilin dan berbagai motif simbolik lainnya. Tak hanya di Lasem, kain batik dengan motif tradisional Cina ini digunakan oleh kaum peranakan untuk menghiasi meja altar persembahan mereka terutama di sepanjang pesisir pantai utara seperti Cirebon, Pekalongan, Semarang, dan Tuban.

Kain batik penutup altar berukuruan 100×90 cm ini disebut Tokwi dalam Bahasa Hokkian. Dalam Bahasa Mandarin disebut Zhuo Wei 桌围. Awalnya kain Tokwi di Cina merupakan kain penutup altar yang menggambarkan perpaduan antara motif Taois dan Buddhis. Diduga, kain Tokwi ini populer pada masa Dinas Tang (abad 8-9 M), tokwinya dibuat dengan menggunakan teknik sulaman. Penggunaan kain penutup altar terus bertahan melintasi berbagai masa dinasti dengan penggunaan aneka warna benang sulam, merah, hijau, kuning, biru, ungu, hitam, putih, dan emas. Tokwi dengan detil sulaman yang memenuhi motif-motif simbol religius semakin mewah dan banyak digunakan oleh kalangan bangsawan Cina dan kaum saudagar. Dalam perkembangannya, motif Tokwi Cina diperkaya dengan kombinasi dengan hiasan ikatan benang, penggunaan manik-manik, cermin, dan metal yang menambah kemewahan kain Tokwi. Seiring dengan migrasi orang Cina ke penjuru dunia, Tokwi pun menyebar ke mancanegara. Demikian pula dengan migrasinya ke Asia Tenggara, Tokwi pun turut serta, bahkan berubah rupa. Tokwi batik menjadi ikon peranakan Cina di Asia Tenggara terutama di Indonesia, Singapur dan Malaysia. Namun satu hal yang tak dapat dipungkiri, kreasi cipta bakti Tokwi merupakan karya yang muncul dari tanah Nusantara. Munculnya Tokwi di Indonesia menggambarkan bentuk adaptasi budaya Cina dalam batik Nusantara yang telah menjadi tren sejak abad 19.

Batik Tokwi yang digunakan kaum peranakan Cina untuk menghias altar pada pelbagai kesempatan upacara daur hidup keluarga yaitu ulang tahun, pernikahan, kematian serta upacara-upacara tradisional Cina seperti sembahyang harian dan tahun baru Imlek memiliki pakem motif yaitu Tiga Dewa (Fu Lu Shou), Delapan Dewa, naga, burung hong, singa, kilin, kelelawar, kupu-kupu, motif geometris, flora, fauna lainnya, buah-buahan yang biasa muncul sebagai pusat motif dan motif tepi dalam kombinasi dan berulang kali. Batik Tokwi pun seolah ingin tampil beda, penggunaan elemen lokal membuat Tokwi asal pesisir utara Jawa ini berbeda dengan Tokwi asli tanah leluhur. Adaptasi warna dan motif pun terjadi dengan munculnya warna sogan, merah bata, motif hewan laut, motif flora fauna lokal yang berpadu dengan motif pakem tradisi Cina.

Terdapat beberapa motif yang dapat ditemukan dalam kain Tokwi. Motif utama yang menjadi pusat Tokwi biasanya menggambarkan tiga dewa (san xing tiga bintang) Fu Lu Shou, Dewa Keberuntungan, Dewa Kemakmuran, Dewa Panjang Umur pada bagian utama kain Tokwi. Motif lainnya adalah Naga yang biasanya digunakan sebagai simbol kekaisaran juga bermakna keagungan, kekuatan, kewaspadaan, dan kebaikan. Motif burung Hong sering digunakan sebagai simbol keindahan, kecantikan, perdamaian dan kemakmuran. Motif Naga dan burung Hong sering muncul bersama sebagai simbol harmonisasi Yin dan Yang, keagungan dan keindahan, kekuatan dan kecantikan, keduanya sering pula menjadi simbol kebahagiaan dalam upacara pernikahan. Biasanya Towki juga memiliki motif Delapan Dewa pada bagian atas penampang Tokwi. Hal ini dimaknai terdapat dunia atas yang ditinggali oleh oleh para dewa dan dunia bawah yang diisi oleh aneka mahluk, flora dan fauna.

Batik Tokwi Lasem saat ini mungkin saja akan tersingkir karena Tokwi impor dari Cina lebih banyak diminati. Namun beberapa pengusaha batik tulis Lasem masih memproduksi tokwi khas perusahaannya. Hal ini membuktikan bahwa pengguna Tokwi batik tulis masih ada. Hal ini merupakan pertanda baik karena batik Tokwi masih diproduksi dan masyarakat masih menggunakan batik Tokwi. Jika pada awalnya batik tokwi merupakan buah adaptasi budaya Cina Jawa, maka ia akan bertahan menjadi saksi sejarah perubahan jaman dan dinamika kehidupan multikultur di tempat ia berkembang.

Berikut ini tabel motif batik yang berhasil dikumpulkan dari penelitian lapangan yang dilakukan tim.

Motif Lokal

No. Nama
1. Baganan
2. Baganan Kawung
3. Bata salepak
4. Betonan
5 Biji Kopi
6. Bledak
7. Buketan
8. Bunga Anggrek
9. Bunga Karang
10. Bunga Matahari
11. Bunga Mlati
12. Bunga Seruni
13. Burung Hong
14. Burung Kolibri
15. Daun pring
16. Daun Waru
17. Gitaran
18. Gunung ringgit
19. Kancil
20. Kawung
21. Kawung bunder
22. Kawung lerek mbagan
23. Kawung miring
24. Kawung rambutan
25. Kitiran
26. Kuda
27. Kuper
28. Latohan
29. Lerekan
30. Lombokan
31. Matahari
32. Merak
33, Nyuk telu
34. Nyuk papat
35. Nyuk lima
36. Nyuk pitu
37. Potong Poni
38. Pucuk Bung
39. Rawan
40. Sapi
41. Sawut
42. Sekar Jagat
43 Semanggi
44. Serit
45. Sondah Mandah
46. Tapal Kuda
47. Tritik
48. Tutulan
49. Untu Walang

 

Motif Cina

NO. NAMA MAKNA
1. Air Yin (perempuan); Kemandirian dan kekuatan perempuan
2. Anak kecil bermain Penerus marga, anak laki-laki
3. Anggrek Keharuman, wanita cantik, (Lan hanya muncul dalam nama perempuan Cina)
4. Awan Keberuntungan dan kebahagiaan
5 Anjing Kesetiaan
6. Angsa Berkah kebahagiaan pernikahan
7. Ayam Penolak bala, tahan banting, kuat, ketenaran, pencapaian terbaik
8. Bangau Panjang umur
9. Bambu Kebajikan,
10. Bebek Penolak bala
11. Bunga Kecantikan, wanita
12. Bunga dalam vas Kedamaian setiap saat
13. Bunga karang Kehormatan
14. Banji/Swastika Keberuntungan
15. Beras Termasuk dalam 12 ornamen Cina;
16. Bola motif kawung Kesuburan (harapan memiliki keturunan)
17. Burung dan bunga Harapan semoga kekayaan dan kemuliaan bersama hingga tutup usia
18. Burung Hantu Penolak bala
19. Burung Hong (Phoenix) Permaisuri Kaisar; Perempuan; Keindahan, kebahagiaan (pernikahan/keluarga)
20. Capung Musim panas; Keindahan musim panas
21. Delapan Dewa Mewakili 8 kondisi kehidupan: kemiskinan, kemakmuran, jabatan, kesederhanaan, keremajaan, maskulinitas dan femininitas
22. Delima Kesuburan (harapan memiliki keturunan)
23. Fu Lu Shou Dewa/karakter Cina; Fu Kekayaan/kemakmuran; Lu Wibawa/jabatan/karir; Shou Panjang umur/kesehatan
24. Gajah Kekuatan dan kecerdikan, kebahagiaan dan keberuntungan
25. Harimau Yang (laki-laki); Keberanian; Keteguhan hati; Penolak bala
26. Huangshan
27. Idiom 4 karakter
28. Ikan Kemakmuran, berlimpah-limpah, kekayaan
29. Ikan gurame Keuntungan dagang, kekayaan
30. Ikan koi Kebahagiaan, kemakmuran, kearifan
31. Kanopi Pelindung
32. Kelelawar Keberuntungan dan kebahagiaan
33, Kambing Bakti anak kepada orangtua
34. Kepiting Penolak bala
35. Kilin (Qilin) Bersama naga, hong dan kura-kura disebut 4 mahluk supernatural; Keluarga besar, banyak anak
36. Kipas Kebajikan, tolak bala
37. Kotak dan lingkarang (lelangit) Bumi dan langit
38. Krisan (seruni) Musim gugur; Panjang umur,
39. Kucing Panjang umur
40. Kuda Simbol Yang (laki-laki), pengorbanan tulus
41. Kupu-kupu Laki-laki
42. Kupu-kupu dan bunga Panjang umur, suci, cantik; laki-laki dan perempuan.
43. Kura-kura Penjaga rahasia Langit dan Bumi; Kekal, abadi; Ketabahan, kesetiaan
44. Lok Can
45. Lipan penyelamat
46. Magnolia Kecantikan, wanita
47. Mawar Keremajaan
48. Matahari Yang (laki-laki); Kaisar
49. Meander Motif garis pembatas pada kain, simbol ‘kembali’ ‘lahir kembali’.
50. Merak Martabat, wibawa, kecantikan
51. Mutiara Kemurnian, mulia
52. Naga Kaisar; Keagungan, kekuatan, kewibawaan
53. Naga di dalam awan
54. Narcissus Keberuntungan dalam satu tahun
55. Ombak Harapan semoga naik karir; Berwibawa
56. Peoni Musim semi; Kemakmuran, kekayaan; perempuan
57. Perenjak Kebahagiaan (pernikahan/keluarga), Yang (laki-laki)
58. Sapi Simbol Yin (perempuan)
59. Sakura Musim dingin; Kemurnian
60. Singa Pelindung
61. Sisik
62. Teratai Musim panas; Kemurnian
63. Uang kepeng Kekayaan, kebahagiaan
64. Vas Kedamaian, kesunyian

 

Selama melakukan penelitian lapangan untuk mengumpulkan data motif batik tulis Lasem, kendala paling utama adalah para pemilik rumah batik tidak dapat mengingat motif batik secara detil, ditambah pula sumber referensi mengenai motif batik Lasem tidak terlalu banyak, dan kalaupun ada sifatnya parsial.

Dari pendataan oleh Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga Kabupaten Rembang pada tahun 2016, rumah batik tulis Lasem dipetakan sebagai berikut: terdapat 120 rumah batik di seluruh Kabupaten Rembang, 66 rumah batik                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                      terletak di Kecamatan Lasem, yang mana 34 di antaranya tersebar di Kota Tua Lasem di daerah Karangturi, Babagan, dan Gedong Mulyo. Dari penelitian lapangan ini sendiri ditemukan 114 macam motif batik, yang terdiri dari 50 macam motif lokal dan 64 motif Cina. Dan, 21 macam motif di antaranya diketahui telah terdaftar HAKI.

Adapun pada akhirnya, secara garis besar dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa: (1) pengetahuan motif batik Lasem diturunkan secara lisan dan belum terdokumentasikan dengan baik; (2) motif batik Lasem pakem klasik banyak mengalami modifikasi dalam hal bentuk dan warna.
Catatan: Artikel ini telah disunting untuk keperluan naskah semi populer.

 

 

 

Referensi:

 

Julukan Petit Chinois atau Tiongkok Kecil telanjur mendunia. Claudine Salmon dalam Chinese Epigraphic Materials in Indonesia yang terbit pada 1997 menyebut bahwa julukan ini muncul dari para wisatawan yang terpana menyaksikan kota berlanskap bangunan kuno seperti di daerah Fujian selatan.

 

Lihat statistik dalam Peter Boomgaard, . Changing Economy in Indonesia A Selection of Statistical Source Material From Early 19th Century Up To 1940. Vol 11 Population Trends, hlm.127

 

Lihat Salmon, hlm.464.

 

Penelitian awal terhadap motif dan narasi batik kota tua (pecinan) Lasem telah dilakukan oleh Agni Malagina sebagai bagian dari penelitian dengan pendanaan National Geographic Indonesia untuk laporan feature edisi Februari 2016 berjudul Corong Candu di Tepian Utara Jawa.

 

Yuanzhi, Kong. (2005). Silang Budaya Tiongkok Indonesia. Jakarta: P.T. Bhuana Ilmu Populer. Hlm. 457.

 

Di Lasem, batik cap muncul sekitar tahun 1930an, seperti yang diberitakan oleh koran Kengpo:

“Tapi blakangan ini di Lasem sadjek moentjoel banjak sarong tjap dan disana – sini banjak dilakoeken pembatikan dengen tjap, harga batik Lasem poen rada merosot, tetapi boekan berarti jang batikindustrie di Lasem ada di dalem kamoendoeran besar ; sebaliknja !Maskipoen sekarang orang bisa beli kaen sarong Lasem dengen oewang f 7.50 banjaknja 20 potong, batikindustrie Lasem masi berdjalan teroes dengen soeboer!”

 

Bijdrage tot de kennis der Inlandsche Katoen – industrie op Java dalam Tijdschrift voor nijverheid en Landbouw in Ned. Indie.

 

De handel is hier (Lasem) levendig. Belangrijk is de uitvoer van sarongs (saroeng Lasem) die o.a. veel naar Singapore verscheept worden. Waarde van de uitgevoerde saroengs + f 3 millioen per jaar.”

 

 

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *