Stasiun Lasem: Tua dan Terbengkalai

Banyak yang bertanya, bisakah kita naik kereta api langsung turun di Lasem? Di zaman dulu, kereta api adalah salah satu alat transportasi unggulan yang singgah dan melintasi Lasem. Tapi, sayang, sekarang sudah tidak lagi. Kenapa?

Pertengahan September kemarin, saya dan beberapa teman dari Kesengsem Lasem berkesempatan mengunjungi Stasiun Lasem. Mas Pop, pemandu kami, mengenang, “Aku masih ngalami naik kereta dari Rembang akhir 80-an.” Namun, saat kami tiba di stasiun, rel kereta pun bahkan sudah tidak tampak lagi.

Yang tesisa dari Stasiun Lasem yang terlihat tua dan terbengkalai ini hanyalah bangunan kantor stasiun yang menyatu dengan peron. Selain itu, masih ada bangunan kamar mandi yang dilengkapi menara air. Semua dalam kondisi yang memprihatinkan. Maklum, stasiun kereta api ini sudah tidak beroperasi sejak 1989.

Di halaman stasiun, banyak terparkir bus dan truk. Sejak tidak lagi melayani perjalanan kereta api, masyarakat sekitar memanfaatkan stasiun ini sebagai lahan parkir. Sore itu, di bekas peron hanya ada bapak supir truk yang mengantuk, tertidur di kursi panjang. Di ujung peron si mbok sedang menata dagangan di warung kecilnya. Meski demikian, sisa-sisa kemegahan stasiunyang berlokasi di Desa Dorokandang, Lasem, ini masih bisa dilihat dari pintu dan jendela berukuran ekstra besar pada bangunan kantor.

Yang paling menarik perhatian saya adalah atap stasiun yang berbentuk ekor walet, mengingatkan saya pada kekhasan gaya arsitektur atap rumah tua pecinan Lasem berlanggam Fujian, Tiongkok Selatan.

“Mau sekalian susur bekas jalur kereta?” Mas Pop menawarkan. Karena waktu sudah terlalu sore, kami memutuskan untuk menelusuri bekas jalur kereta api pada hari berikutnya. Keesokan harinya kami mulai bersepeda motor menyusuri bekas rel kereta api dari Babagan. Sebagian besar jalur rel sekarang sudah menjadi jalan kampung, di kanan-kiri sudah padat oleh permukiman penduduk, diselingi oleh pemandangan sawah dan ladang. Di beberapa tempat terpasang plang bertuliskan, “Tanah ini milik PT KAI.”

Kami terus berkendara menuju perbatasan Desa Babagan dan Karaskepoh. Di sini, kami menemukan sebuah bekas jembatan kereta yang sekarang masih dipergunakan sebagai jalan penghubung kedua desa. Kami terpaksa berhenti di Desa Karaskepoh karena medan jalan yang semakin sulit, berupa jalur tanah berbatu yang sempit menembus tegalan dan hutan jati. Ah, seandainya kami tadi naik sepeda, mungkin kami masih bisa melewati jalur itu terus menuju ke selatan sampai ke Pamotan.

Stasiun Lasem merupakan bagian dari jalur kereta api yang dahulu membentang dari Semarang ke arah timur sampai Jatirogo, Tuban, Jawa Timur. Sejak awal abad ke-20, seiring dengan mengalirnya arus modal swasta ke Hindia Belanda, semakin banyak perusahaan swasta maupun perorangan yang mendapatkan konsesi untuk mengolah kekayaan alam Hindia Belanda. Dengan demikian, kebutuhan pembangunan infrastruktur untuk transportasi barang maupun orang juga semakin meningkat.

Adalah Semarang Joana Stoomtram Maatschappij (SJSM), yang pada 1881 mendapat hak untuk membangun jalur kereta api dari Semarang ke Jatirogo, Blora, dan Cepu. Jalur ini sangat penting karena menghubungkan kota pelabuhan Semarang dengan kota-kota di pantai utara Jawa, seperti Demak, Kudus, Pati, Juana, dan Rembang. Dari kota-kota tersebut hasil bumi seperti kopi, kapas, tembakau, tebu, dan kayu jati, maupun hasil laut, misalnya garam dan ikan, dapat diangkut dengan lebih cepat dan murah.

Pembangunan jalur ini dilakukan bertahap, serta didesain dengan beberapa percabangan jalur, seperti Juana-Tayu, Jepara, kemudian di Rembang, ada percabangan jalur menuju Blora dan Cepu, serta jalur Lasem-Pamotan-Jatirogo.

Pembangunan jalur dengan total panjang 415 kilometer ini akhirnya diselesaikan pada 1919. Sayangnya, sejak 1980-an, jalur ini perlahan-lahan mulai kehilangan pamornya hingga pada 1987 sudah tidak melayani perjalanan kereta api lagi. Akan tetapi, bangunan bekas stasiun kereta api Lasem (dan beberapa stasiun lain di sepanjang jalur ini, seperti Stasiun Kudus dan Rembang, masih patut dikunjungi. Terlebih lagi jika Anda adalah seorang kereta-mania.

Meskipun semua bekas bangunan stasiun sudah beralihfungsi menjadi pasar (Stasiun Kudus), terminal bus (Stasiun Rembang), maupun lahan parkir (Stasiun Lasem), bangunan bekas stasiun tersebut masih layak diabadikan, atau istilah anak sekarang instagramable. Saran saya, jika berkunjung ke Lasem dengan mobil pribadi, mampirlah ke bekas stasiun tadi sambil merunut bekas kejayaan jalur kereta api Pantura Jawa. Atau kalau Anda hobi gowes, boleh juga dicoba tur sepeda. Jalur Lasem-Pamotan misalnya, meskipun jalurnya agak menanjak tetapi akan terbayar dengan keindahan pemandangan di sepanjang jalan.

One Comment

  1. SUGENG RIANTO

    Mas..bisakah jalur kereta api yg tak terawat ini diaktipkan kembali…atau akankah difungsikan kembali ..sayang yaa..warisan ini tak berfungsi,,saya yakin kereta api dijalur imi menguntungkan..adakah investor lain yg mau mengelola jalur kereta api ini….?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *